Sistem Kesehatan Lebanon Selatan Kolaps di Tengah Serangan Israel

- Sabtu, 04 April 2026 | 02:45 WIB
Sistem Kesehatan Lebanon Selatan Kolaps di Tengah Serangan Israel
Seorang anak bermain bola sepak di dekat jemuran matras di Dahiyeh, selatan Beirut, Lebanon, 27 Maret 2026. (Sumber: Emilio Morenatti/Associated Press)

BEIRUT Sudah berbulan-bulan situasi di sini mencekam. Kini, sistem kesehatan di Lebanon Selatan dilaporkan berada di ambang kehancuran akibat serangan Israel yang terus berulang. Bukan cuma infrastruktur yang hancur, tapi juga tenaga medis yang jadi sasaran. Banyak yang bilang, ini bukan kebetulan. Menurut analis, pola serangan yang menargetkan layanan kesehatan itu adalah bagian dari upaya sistematis untuk mengosongkan wilayah tersebut dari penduduk.

Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon cukup mengerikan. Sejak awal Maret, saat serangan diintensifkan, lima rumah sakit terpaksa tutup. Lebih parah lagi, 53 petugas medis tewas dan 87 ambulans atau fasilitas kesehatan hancur diluluhlantakkan. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, tapi gambaran nyata betapa rapuhnya pertahanan kesehatan di wilayah konflik.

Luna Hammad, koordinator lembaga Dokter Lintas Batas (MSF) di Lebanon, menyoroti pola yang mengkhawatirkan. Menurutnya, serangan Israel yang dibarengi perintah evakuasi massal telah melumpuhkan akses warga terhadap layanan kesehatan.

"Serangan Israel dan perintah evakuasi menyeluruh memutus akses masyarakat terhadap layanan kesehatan sekaligus menyusutkan ruang untuk layanan kesehatan," kata Hammad, seperti dikutip dari Al Jazeera, Jumat (3/4).

Sebenarnya, kondisi sistem kesehatan Lebanon sudah buruk sebelum semua ini terjadi. Krisis finansial yang melanda sejak 2019, ditambah konflik Israel-Hizbullah periode 2023-2024, telah membuatnya sangat rentan. Serangan yang terjadi sekarang ibarat menghantam orang yang sudah jatuh.

Di sisi lain, para dokter di lapangan merasakan dampaknya langsung. Seorang dokter di Beirut yang enggan disebutkan namanya demi keamanan punya pandangan tajam. Ia menduga serangan ke fasilitas kesehatan adalah bagian dari skema yang disengaja.

"Anda tidak bisa hidup di suatu tempat yang tidak memiliki layanan kesehatan dasar," ujar dokter tersebut.

Ia melanjutkan, dampak berantainya jelas. Pengungsian massal terjadi, dan itu justru membebani fasilitas kesehatan di daerah tujuan pengungsian. Bayangkan, ada tambahan sekitar satu juta orang yang tiba-tiba membutuhkan layanan medis, sementara sumber dayanya sendiri sudah menipis.

Memang, militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran dan invasi darat ke Lebanon Selatan mulai 2 Maret lalu. Mereka beralasan operasi ini adalah balasan atas serangan Hizbullah. Namun begitu, yang menjadi korban justru infrastruktur vital dan warga sipil, termasuk para pekerja garis depan yang berusaha menyelamatkan nyawa.

Jadi, situasinya rumit. Di satu sisi ada perang, di sisi lain ada krisis kemanusiaan yang kian menjadi. Layanan kesehatan yang kolaps bukan hanya angka, tapi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup ratusan ribu orang yang masih bertahan di sana.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar