BEIRUT Sudah berbulan-bulan situasi di sini mencekam. Kini, sistem kesehatan di Lebanon Selatan dilaporkan berada di ambang kehancuran akibat serangan Israel yang terus berulang. Bukan cuma infrastruktur yang hancur, tapi juga tenaga medis yang jadi sasaran. Banyak yang bilang, ini bukan kebetulan. Menurut analis, pola serangan yang menargetkan layanan kesehatan itu adalah bagian dari upaya sistematis untuk mengosongkan wilayah tersebut dari penduduk.
Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon cukup mengerikan. Sejak awal Maret, saat serangan diintensifkan, lima rumah sakit terpaksa tutup. Lebih parah lagi, 53 petugas medis tewas dan 87 ambulans atau fasilitas kesehatan hancur diluluhlantakkan. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, tapi gambaran nyata betapa rapuhnya pertahanan kesehatan di wilayah konflik.
Luna Hammad, koordinator lembaga Dokter Lintas Batas (MSF) di Lebanon, menyoroti pola yang mengkhawatirkan. Menurutnya, serangan Israel yang dibarengi perintah evakuasi massal telah melumpuhkan akses warga terhadap layanan kesehatan.
Sebenarnya, kondisi sistem kesehatan Lebanon sudah buruk sebelum semua ini terjadi. Krisis finansial yang melanda sejak 2019, ditambah konflik Israel-Hizbullah periode 2023-2024, telah membuatnya sangat rentan. Serangan yang terjadi sekarang ibarat menghantam orang yang sudah jatuh.
Artikel Terkait
TRIS Siap Ekspansi Global, Manfaatkan Perjanjian Dagang dan Kinerja 2025 yang Solid
Pelatih Arema Ungkap Alasan Taktik Bertahan Ketat Usai Imbang Lawan Malut United
Bareskrim Blokir 80 Rekening dan Periksa 90 Saksi dalam Kasus Dugaan Penipuan PT DSI Rp 2,4 Triliun
Satria Muda Pertamina Bandung Tumbangkan Rajawali Medan dalam Drama Tipis 89-87