Di sisi lain, para dokter di lapangan merasakan dampaknya langsung. Seorang dokter di Beirut yang enggan disebutkan namanya demi keamanan punya pandangan tajam. Ia menduga serangan ke fasilitas kesehatan adalah bagian dari skema yang disengaja.
Ia melanjutkan, dampak berantainya jelas. Pengungsian massal terjadi, dan itu justru membebani fasilitas kesehatan di daerah tujuan pengungsian. Bayangkan, ada tambahan sekitar satu juta orang yang tiba-tiba membutuhkan layanan medis, sementara sumber dayanya sendiri sudah menipis.
Memang, militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran dan invasi darat ke Lebanon Selatan mulai 2 Maret lalu. Mereka beralasan operasi ini adalah balasan atas serangan Hizbullah. Namun begitu, yang menjadi korban justru infrastruktur vital dan warga sipil, termasuk para pekerja garis depan yang berusaha menyelamatkan nyawa.
Jadi, situasinya rumit. Di satu sisi ada perang, di sisi lain ada krisis kemanusiaan yang kian menjadi. Layanan kesehatan yang kolaps bukan hanya angka, tapi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup ratusan ribu orang yang masih bertahan di sana.
Artikel Terkait
Pertamina Tambah Pasokan Elpiji Subsidi Jelang Libur Panjang di Madiun Raya
Arema FC dan Malut United Bermain Imbang 1-1 di Kanjuruhan
Banjir Rendam Ribuan Rumah di Lima Kecamatan Grobogan
Hujan Deras di Donggala Rendam 552 Rumah, Bupati Perintahkan Normalisasi Sungai