Donald Trump kembali membuat gebrakan. Presiden AS itu memecat Jaksa Agung Pam Bondi, sekutu setianya sendiri, di tengah hiruk-pikuk kritik yang terus membesar. Posisinya untuk sementara akan diisi oleh Todd Blanche tak lain adalah mantan pengacara pribadi Trump.
Menurut sejumlah saksi, pemecatan ini bukan tanpa alasan. Bondi dinilai lamban, bahkan gagal, dalam menangani berkas-berkas sensitif terkait almarhum Jeffrey Epstein. Kasus Epstein ini sendiri ibarat duri dalam daging bagi Trump, mengingat keduanya pernah disebut-sebut berteman lama.
Tak cuma itu. Bondi juga dilaporkan memicu kegeraman Trump karena dianggap tak serius mengejar lawan-lawan politiknya. Nama-nama seperti James Comey, mantan direktur FBI, dan Jaksa Agung New York Letitia James, konon jadi sumber kekecewaan itu.
Di akun Truth Social-nya, Trump justru mengemas berita pemecatan ini dengan pujian.
"Pam Bondi adalah Patriot Amerika yang hebat dan teman yang setia, yang telah melayani dengan penuh dedikasi sebagai Jaksa Agung saya selama setahun terakhir," tulisnya.
"Pam melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam mengawasi pemberantasan besar-besaran terhadap kejahatan di seluruh negeri kita."
Dia bilang Bondi bakal dapat tugas baru di sektor swasta. "Akan diumumkan dalam waktu dekat," katanya singkat. Namun begitu, banyak yang membaca pernyataan itu sebagai upaya merapikan penampilan, agar tak terlihat seperti perpecahan internal yang berdarah-darah.
Epstein tewas di sel tahanan New York pada 2019. Kematiannya yang misterius meninggalkan segudang pertanyaan dan dokumen yang belum sepenuhnya terkuak. Dan Bondi, sayangnya, terjebak di pusarannya.
Lantas, siapa penggantinya? Todd Blanche, sang pengacara pribadi, akan memegang tampuk sementara. Tapi kabar burung dari The New York Times menyebut, Trump kemungkinan sedang menyiapkan Lee Zeldin, eks anggota kongres Republik yang kini mengepalai EPA, untuk menduduki kursi jaksa agung secara permanen.
Ini bukan kali pertama Trump bertindak cepat. Kurang dari sebulan lalu, Kristi Noem juga dipecat dari posisi kepala Departemen Keamanan Dalam Negeri. Polanya serupa: sekutu dekat, tiba-tiba disingkirkan, digantikan oleh orang yang dianggap lebih loyal. Politik memang selalu berputar cepat. Dan di era Trump, loyalitas seringkali diuji di medan yang paling tak terduga.
Artikel Terkait
Guardiola Ingin Lakukan ‘Hal Bodoh’ Setelah Tinggalkan Manchester City
Pengamen Waria di Solo Ditangkap Satpol PP Usai Tampar Pengunjung Warung karena Tak Diberi Uang
Pensiunan BUMN Sukses Kembangkan Budi Daya Ikan Nila Bioflok di Bogor, Raup Omzet Jutaan Rupiah
Ketua Fraksi Golkar Akui Pelayanan Haji 2026 Meningkat Signifikan