Siang itu di Malang, 15 Desember 1929, sebuah kelahiran yang tak biasa terjadi. Bayi ketiga pasangan Raden Ismangoen Poespohandojo dan Raden Ajoe Koesbandijah lahir tepat tengah hari, dengan tubuhnya masih terbungkus ari-ari. Kejadian langka itu langsung mengundang decak kagum. Orangtuanya punya julukan khusus: anak gajah.
“Rudini lahir dengan tubuh yang terbungkus ari-ari seperti anak gajah yang baru keluar dari rahim induknya. Itulah sebab orangtuanya menjuluki Rudini sebagai anak gajah,”
Begitu tertulis dalam buku biografi yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat. Julukan itu sama sekali bukan ejekan, melainkan wujud kasih sayang. Konon, Rudini sendiri begitu terkesan dengan julukan masa kecilnya itu. Buktinya, berbagai suvenir berbentuk gajah banyak menghiasi rumahnya kelak.
Dalam tradisi Jawa, bayi yang lahir dengan selubung ari-ari sering dianggap pertanda baik. Mereka dipercaya akan membawa keberuntungan, atau bakal tumbuh menjadi ‘orang besar’. Mitos atau bukan, kenyataannya anak itu Jenderal TNI (Purn) Rudini benar-benar menjelma menjadi salah satu tokoh paling dihormati dalam sejarah militer Indonesia.
Kariernya melesat. Dia bukan cuma pernah memegang tongkat komando tertinggi di Mabes AD, tapi juga bertahan lama di lingkaran elite Istana sebagai menteri.
Tapi kesuksesannya itu tidak datang tiba-tiba. Semuanya berawal dari tekad yang menggebu, meski awalnya penuh rintangan. Setamat dari SMA Katolik Santo Albertus Malang, Rudini justru ingin jadi dokter. Tapi hati dan pikirannya tertambat pada dunia militer. Inspirasinya datang dari dekat: kisah heroik Batalyon 3000 dan 5000 Brigade XVII/Detasemen I Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur.
Mereka adalah para pelajar yang bertempur mati-matian melawan Belanda di Malang. Tiga puluh lima anggota TRIP gugur dalam pertempuran tak seimbang itu. Justru pengorbanan itulah yang membakar semangat Rudini.
“Perjuangan anggota TRIP Malang senantiasa menjadi motivasi Rudini selepas SMA. Jiwa militansi tumbuh untuk menjadi prajurit yang gagah berani seperti TRIP,” tulis Disjarahad.
Sayang, langkah pertamanya tersendat. Ia mendaftar jadi taruna AU, namun gagal lantaran tinggi badannya tak memenuhi syarat. Gagal di AU, nasib justru membukakan jalan lain yang lebih luas.
Rudini akhirnya diterima di Koninlijke Militaire Academie (KMA) di Breda, Belanda. Prestasinya di sana sudah langsung bersinar. Seorang penulis bernama Moekhardi mencatat, “Jenderal Rudini bila ditelusuri riwayat karier militernya memang sudah tampak menonjol sejak menjadi taruna. Pada ujian akhir tahun 1955, ia tercatat sebagai rangking 1 di kelompok infanteri angkatannya.”
Setelah pulang ke tanah air, karier militernya berkembang pesat. Dari Komandan Batalyon 401/Banteng Raiders, lalu naik ke posisi Komandan Brigade Infanteri Linud 18/Kostrad, hingga akhirnya memegang jabatan Kepala Staf Komando Tempur Lintas Udara. Jejaknya terus menanjak: Kaskostrad, Pangdam XIII/Merdeka, lalu Pangkostrad.
Puncaknya terjadi pada 1983. Rudini dipercaya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat yang ke-14, menggantikan Jenderal Poniman. Namun, proses pengangkatannya ternyata punya cerita tersendiri yang menarik.
Kala itu, Ibu Negara Tien Soeharto konon punya calon lain. Dalam sebuah makan malam di Cendana, dia menyampaikan harapannya pada Presiden Soeharto dan menantunya, Prabowo Subianto.
“Itu lho Pak, sing apik iku (yang bagus itu) Pangdam Bali Pak Dading. Tinggi, gagah, dan ganteng. Cocok itu, sebaiknya dia yang jadi KSAD, Pak,”
kata Ibu Tien, seperti dikisahkan kembali oleh Prabowo. Dalam pertemuan berikutnya, Ibu Tien kembali menanyakan hal yang sama. Soeharto hanya tersenyum, tanpa banyak komentar.
Beberapa hari kemudian, keputusan akhir muncul di media. Bukan Dading Kalbuadi, melainkan Rudini, sang Pangkostrad, yang terpilih. Dalam sebuah kesempatan, Ibu Tien terlihat kecewa. “Bapak (Soeharto) itu nggak mau dengar saran Ibu,” ujarnya.
Setelah pensiun dari dinas militer, Rudini tetap dipercaya negara. Soeharto menunjuknya sebagai Menteri Dalam Negeri di Kabinet Pembangunan V. Jenderal yang dijuluki ‘antipeluru’ ini juga sempat memimpin Komisi Pemilihan Umum pada 1999.
Rudini menghembuskan napas terakhirnya pada 21 Januari 2006. Sang jenderal, yang lahir dengan pembungkus ari-ari seperti anak gajah, akhirnya dimakamkan dengan penuh kehormatan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Kisah hidupnya tetap dikenang, dari bayi ajaib di Malang hingga menjadi salah satu nama besar di pentas nasional.
Artikel Terkait
Takbiran Idul Adha Dimulai Sejak Maghrib Malam Raya hingga Ashar 13 Dzulhijjah, Ini Perbedaan Durasi Menurut Mazhab
Mandi Sunah Idul Adha 2026: Niat, Tata Cara, dan Hukumnya Sebelum Salat
Salat Iduladha 1447 H Tingkat Kota Makassar Dipusatkan di Lapangan Karebosi, Pemkot Siapkan Hewan Kurban Bantuan Presiden
Sabar/Reza Lolos ke 16 Besar Singapore Open 2026 Usai Hajar Wakil Tuan Rumah Dua Gim Langsung