IHSG lagi-lagi memecahkan rekor. Pagi tadi, Selasa (20/1/2026), indeks acuan saham kita sempat menyentuh level 9.174,47. Angka itu mengalahkan rekor tertinggi yang baru saja dicetak sehari sebelumnya. Trennya memang terus naik, dan ini menarik perhatian banyak pihak.
Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, penguatan kali ini punya cerita yang sedikit berbeda. "Jika kita perhatikan, kinerja IHSG saat ini tidak hanya terdongkrak oleh saham-saham konglo saja," ujarnya.
Ia menjelaskan, beberapa waktu ke belakang ada aliran dana yang cukup baik ke sektor perbankan. Padahal, sektor ini punya porsi bobot terbesar di IHSG.
"Empat big banks ini tidak mencetak new low lagi," tambah Michael. Pergerakan saham perbankan besar mulai stabil, dan itu jadi sinyal positif.
Di sisi lain, minat investor asing ternyata juga konsisten. Mereka tak cuma fokus ke perbankan, tapi juga mengalirkan dananya ke saham-saham berkapitalisasi besar lain.
"ASII serta TLKM juga rutin mendapat inflow dari foreign. Ini yang mengakibatkan kenaikan IHSG belakangan yang terus mencetak all-time high," jelasnya.
Yang menarik, semua ini terjadi di tengah sentimen domestik yang sebenarnya belum sepenuhnya solid. Rupiah masih melemah terhadap dolar AS, misalnya. Namun begitu, Michael melihat aksi asing ini justru memberikan gambaran tersendiri tentang outlook ekonomi Indonesia di mata dunia.
Fakta di lapangan pun menunjukkan ketangguhan IHSG. Di saat pasar global bergejolak karena sentimen geopolitik, indeks kita justru ditutup menguat 0,64 persen ke level 9.133,87 pada perdagangan Senin. Rekor baru lagi.
Lalu, ke mana arahnya nanti? Analis KB Valbury Sekuritas mencatat, fokus pasar pekan ini akan tertuju pada sejumlah rilis data makro. Mulai dari pertumbuhan kredit, keputusan suku bunga BI, sampai perkembangan jumlah uang beredar. Itu semua bakal jadi penentu mood pasar.
Sementara itu, tim analis BRI Danareksa Sekuritas memberi catatan menarik. Mereka bilang, rekor IHSG ini tercapai meski investor asing masih mencatatkan net sell senilai Rp542 miliar di pasar reguler. Artinya, penguatan ini ditopang kuat oleh permintaan domestik. Ketahanan yang patut diacungi jempol di tengah ketidakpastian global.
Artikel Terkait
TransJabodetabek Siapkan Rute Baru: Blok M Langsung Tembus Bandara Soetta
IKAN Cetak Rekor Transaksi Rp79,77 Miliar, Sahamnya Melonjak 430% dalam Setahun
Program Makan Bergizi Gratis Tembus Rp 18 Triliun, Dana Mengalir ke 21 Ribu Dapur
Prabowo dan Starmer Sepakati Kemitraan Ekonomi Baru, Bahas Kampus Inggris hingga Konservasi Gajah