PT Liqun Investment Indonesia akhirnya mengamankan posisi pengendali di PT Koka Indonesia Tbk. Kesepakatan pembelian saham mayoritas emiten konstruksi itu sudah ditandatangani, menandai masuknya perusahaan asal China tersebut ke dalam struktur kepemilikan KOKA.
Transaksi ini, senilai Rp37,2 miliar, bukan proses yang instan. Semuanya berawal dari Nota Kesepahaman yang diteken September tahun lalu. Baru pada 6 Maret 2025, perjanjian jual beli saham bersyarat (CSPA) resmi ditandatangani. Para penjualnya adalah PT Kreatif Konstruksi Indonesia (KKI) beserta tiga individu: Gao Jing, Sun Ling, dan Gao Jinfeng.
Direktur Utama KOKA, Gao Jing, menegaskan satu hal penting: antara pembeli dan penjual tidak ada hubungan afiliasi sama sekali.
"Tujuan transaksi untuk mengembangkan dan memperluas jaringan bisnis sehingga dapat meningkatkan prospek pengembangan bisnis di bidang konstruksi, khususnya konstruksi infrastruktur,"
ujarnya dalam keterbukaan informasi ke bursa, Jumat (6/3/2026).
Namun begitu, Gao Jing mengingatkan bahwa penyelesaian akhir transaksi masih menunggu pemenuhan beberapa prasyarat dalam CSPA dan tentu saja, regulasi yang berlaku.
KOKA sendiri punya catatan menarik. Perusahaan ini adalah pelopor; merupakan perusahaan konstruksi PMA asal China pertama yang berhasil melantai di BEI. Pencatatan saham perdana mereka terjadi pada Oktober 2023. Padahal, jejaknya di Indonesia sudah cukup panjang sejak didirikan tahun 2011. Lebih dari 100 proyek telah mereka tangani, banyak di antaranya untuk perusahaan China yang beroperasi di sini, sebut saja VIVO hingga SGMW Wuling.
Lalu, bagaimana komposisi sahamnya sebelum akuisisi ini? Hingga akhir Februari 2026, kepemilikannya terbagi. PT Kreatif Konstruksi Indonesia memegang 24,75%, disusul Gao Jing dengan 42,75%. Sun Ling dan Gao Jinfeng masing-masing pegang 5,6% dan 5,4%. Sisa sekitar 21,5% saham beredar di publik sebagai free float.
Di sisi lain, data terbaru dari KSEI memperlihatkan nama-nama lain dalam daftar pemegang saham. Ada Fathi dengan kepemilikan 2,05% dan Qiuling Shao yang menguasai 1,82%. Detail ini sedikit menambah warna pada struktur kepemilikan KOKA yang memang sudah cukup kompleks.
Dengan masuknya Liqun Investment, peta bisnis KOKA di sektor konstruksi terutama infrastruktur diprediksi akan berubah. Tinggal tunggu realisasi di lapangan.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Sistem Tol Tanpa Palang Masih Tahap Uji Fungsi Dasar
Pabrik Baru PT Mulia Boga Raya (KEJU) Ditargetkan Beroperasi Juli 2026
Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif
WMUU Bakal Rights Issue Rp600 Miliar, Harga Penawaran Lebih Tinggi dari Pasar