Jumat pagi itu, suasana di sekitar rumah sakit terasa berat. Dimas Bagus Arya, Koordinator KontraS, tampak lelah namun matanya tajam. Dia baru saja menjenguk rekannya, Andrie Yunus, yang menjadi korban penyiraman air keras. Bagi Dimas, ini lebih dari sekadar serangan terhadap individu.
"Ini bukan lagi alarm," ujarnya, suaranya tegas namun terdengar parau. "Ini marabahaya."
Di hadapan sejumlah wartawan, dia menyatakan dengan jelas bahwa aksi brutal ini merupakan ancaman serius bagi demokrasi kita.
Menurut dia, apa yang menimpa Andrie adalah cermin dari situasi yang kian memburuk. Ruang bagi para pembela HAM, katanya, semakin sempit dan berbahaya. "Ini kondisi yang sangat brutal, sangat buruk, dan sangat zalim," tutur Dimas.
Namun begitu, solidaritas yang mengalir justru menunjukkan siapa Andrie sebenarnya. Sejak tengah malam, banyak kawan-kawan aktivis sudah berdatangan ke rumah sakit.
Artikel Terkait
KontraS: Wakil Koordinator Disiram Air Keras Usai Isi Podcast
BSN dan Forum Wartawan Bagi 300 Paket Sembako ke Warga Rentan Jabodetabek
Dua Remaja Tersangka Bawa Jenazah dalam Boks Pakai Motor di Medan
14 Maret dalam Catatan Sejarah: Dari Einstein hingga Duka Bung Hatta