Jumat pagi itu, suasana di sekitar rumah sakit terasa berat. Dimas Bagus Arya, Koordinator KontraS, tampak lelah namun matanya tajam. Dia baru saja menjenguk rekannya, Andrie Yunus, yang menjadi korban penyiraman air keras. Bagi Dimas, ini lebih dari sekadar serangan terhadap individu.
"Ini bukan lagi alarm," ujarnya, suaranya tegas namun terdengar parau. "Ini marabahaya."
Di hadapan sejumlah wartawan, dia menyatakan dengan jelas bahwa aksi brutal ini merupakan ancaman serius bagi demokrasi kita.
Menurut dia, apa yang menimpa Andrie adalah cermin dari situasi yang kian memburuk. Ruang bagi para pembela HAM, katanya, semakin sempit dan berbahaya. "Ini kondisi yang sangat brutal, sangat buruk, dan sangat zalim," tutur Dimas.
Namun begitu, solidaritas yang mengalir justru menunjukkan siapa Andrie sebenarnya. Sejak tengah malam, banyak kawan-kawan aktivis sudah berdatangan ke rumah sakit.
"Andrie Yunus orang baik. Kalau dia bukan orang baik, teman-teman tidak akan datang bersolidaritas sejak tengah malam kemarin," katanya.
Dimas menegaskan konsistensi Andrie dalam memperjuangkan isu hak asasi manusia dan demokrasi. KontraS sendiri sudah berdiri hampir tiga dekade tepatnya 28 tahun tahun ini. Perjalanan panjang yang tak selalu mulus.
Dia lalu menarik napas panjang. "Tahun lalu kado KontraS adalah revisi Undang-Undang TNI." Lalu, dengan nada getir dia menambahkan, "Tahun ini serangan."
Kata-katanya itu menggantung di udara, meninggalkan kesan pilu sekaligus perlawanan. Sebuah organisasi yang seharusnya mendapat perlindungan, justru mendapat ‘kado’ pahit berupa kekerasan. Situasi ini, bagi siapa pun, jelas mengkhawatirkan.
Artikel Terkait
KAI Tegaskan Keselamatan Penumpang Prioritas Utama, Tak Ada Perbedaan Perlakuan Berdasarkan Gender
Honda BeAT 2026 Ditawarkan dengan Cicilan Mulai Rp1 Jutaan di Jakarta
Layanan KRL Cikarang dan Bekasi Timur Ditargetkan Pulih Siang Ini Usai Kecelakaan Maut
KAI Batalkan 8 Perjalanan Kereta dari Jakarta untuk Normalisasi Rangkaian, Penumpang Dapat Refund 100 Persen