Menteri AHY: Prioritas Bukan Soal Gender, Tapi Keselamatan Transportasi Publik

- Selasa, 28 April 2026 | 23:30 WIB
Menteri AHY: Prioritas Bukan Soal Gender, Tapi Keselamatan Transportasi Publik

JAKARTA Ada usul menarik dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi. Ia mengusulkan agar gerbong khusus perempuan di KRL dipindahkan ke bagian tengah rangkaian. Bukan lagi di depan atau belakang seperti sekarang. Usulan ini muncul setelah insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur.

Nah, bagaimana tanggapan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono? Atau yang akrab disapa AHY?

Dengan nada hati-hati, AHY menyampaikan bahwa prioritas utama saat ini bukanlah soal gender. Bukan soal perempuan atau laki-laki. Menurut dia, yang lebih penting adalah bagaimana sistem transportasi publik, khususnya kereta api, benar-benar aman dan nyaman bagi semua orang.

"Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan lakinya tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat, menghadirkan rasa aman, nyaman," ucap AHY di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Ia juga mengakui, ada ironi di sini. Gerbong yang selama ini disiapkan khusus untuk kelompok yang dianggap paling rentan yaitu perempuan ternyata justru berada di posisi yang paling berisiko saat kecelakaan terjadi. Tentu ini jadi bahan evaluasi serius.

"Jadi pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru yang mendapatkan bisa dikatakan risiko yang paling tinggi. Ini juga bagian yang akan kita terus evaluasi," jelasnya.

Di sisi lain, AHY sudah meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk turun tangan. Investigasi harus dilakukan secara menyeluruh dan transparan. Tidak ada yang ditutup-tutupi.

"KNKT tadi sudah menyanggupi akan melakukan investigasi secara menyeluruh. Saya minta transparan, terbuka, bisa dijelaskan kepada publik. Karena ini juga harus ada faktor edukasinya," tegasnya.

Sebelumnya, Menteri PPA Arifah Fauzi menyampaikan usulannya langsung di lokasi kejadian. Ia mengaku sempat berdiskusi dengan pihak KAI. Menurutnya, penempatan gerbong wanita di ujung depan dan belakang memang untuk menghindari rebutan kursi. Tapi setelah musibah ini, ia merasa perlu ada perubahan.

"Tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," ucap Arifah kepada wartawan di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).

"Jadi yang laki-laki di ujung, depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah gitu. Tadi sementara itu," sambungnya.

Sebagai gambaran, kecelakaan ini terjadi pada Senin (27/4) malam. Kronologinya cukup rumit. Semua bermula dari sebuah taksi yang mogok di perlintasan sebidang Ampera, Bulak Kapal, Bekasi Timur. Taksi itu kemudian ditabrak oleh KRL Commuter Line jurusan Cikarang-Jakarta. Akibatnya, jalur kereta lumpuh total.

Situasi makin runyam. Di saat yang sama, ada KRL lain yang hendak melaju ke arah Cikarang. Karena jalur terblokir, kereta itu terpaksa berhenti dan tertahan di area Stasiun Bekasi Timur. Nah, di tengah situasi genting itulah, KA Argo Bromo Anggrek melaju kencang dari arah Jakarta dan menabrak bagian belakang KRL yang sedang berhenti tersebut.

Dampaknya sangat fatal. Data sementara mencatat 88 orang luka-luka. Dan yang lebih memilukan, 15 orang dinyatakan meninggal dunia.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar