Laba Bersih ADRO Anjlok 68% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara dan Spin-off AADI

- Minggu, 08 Maret 2026 | 11:20 WIB
Laba Bersih ADRO Anjlok 68% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara dan Spin-off AADI

Kinerja keuangan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) pada 2025 terlihat suram. Tekanan datang dari dua arah: harga jual batu bara yang melemah dan efek pemisahan unit usaha, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Hasilnya, laporan keuangan tahun lalu penuh dengan angka berwarna merah.

Pendapatan perseroan tercatat hanya USD 1,87 miliar. Angka itu turun 10% dibandingkan realisasi tahun 2024 yang mencapai USD 2,08 miliar. Tapi yang lebih mencengangkan adalah laba bersihnya. Dari sebelumnya USD 1,39 miliar, kini merosot tajam 68% menjadi USD 448 juta, atau sekitar Rp 7,4 triliun. Penurunan drastis ini jelas menggambarkan betapa berat tekanan pada profitabilitas perusahaan.

Laba brutonya pun ikut terpangkas 27%, hanya mencapai USD 636 juta. Penyebabnya, beban pokok pendapatan justru naik sedikit di saat pendapatan usaha merosot. Alhasil, margin laba bruto anjlok ke level 34%, jauh dari tahun sebelumnya yang masih bertahan di 42%.

EBITDA juga tak luput dari koreksi, turun 19% menjadi USD 799 juta. Memang, perusahaan berusaha efisien dengan memangkas beban usaha hingga 24%. Namun upaya itu tampaknya belum cukup. Laba usaha tetap melemah 27%, tersisa USD 518 juta.

Lalu, kenapa laba bersihnya bisa anjlok begitu dalam? Selain faktor operasional, hilangnya kontribusi laba dari PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) yang sudah dipisahkan memberi dampak signifikan. Kalau faktor spin-off itu dikesampingkan, penurunan laba bersih ‘hanya’ 27% dari USD 570 juta. Tapi realitanya, angka akhir di laporan tetap terkoreksi parah.

Dari sisi neraca, kondisi likuiditas juga perlu diperhatikan. Posisi kas dan setara kas menyusut 26% menjadi USD 1,4 miliar. Di sisi lain, utang berbunganya justru melonjak 43% ke level USD 775 miliar. Lonjakan utang ini sejalan dengan realisasi belanja modal yang membengkak 43% menjadi USD 797 juta.

Lantas, kemana uangnya dialirkan? Sebagian besar ternyata dipakai untuk investasi di sektor aluminium, lewat PT Kalimantan Aluminium Industry. Saat ini, smelter milik mereka sudah mulai memasuki tahap pengujian dan commissioning sebagian. Selain itu, Alamtri juga menggelontorkan dana untuk sejumlah proyek infrastruktur. Mulai dari peningkatan jalan hauling tahap pertama, pembuatan konveyor pemuatan tongkang, sampai pembangunan mess karyawan di PT Maruwai Coal. Bahkan, persiapan untuk tahap kedua peningkatan jalan hauling juga sudah dijalankan.

Di tengah semua tantangan keuangan ini, sisi operasional justru menunjukkan tren positif. Produksi batu bara naik 12% menjadi 7,41 juta ton, diikuti penjualan yang juga tumbuh 12% ke angka 6,28 juta ton. Kenaikan ini sejalan dengan kinerja PT Maruwai Coal dan PT Lahai Coal. Aktivitas pengupasan overburden pun ikut meningkat 12% menjadi 26,33 juta bcm, dengan nisbah kupas 3,55 kali.

Singkatnya, tahun 2025 adalah tahun yang berat bagi Alamtri. Mereka seperti berjalan di dua medan berbeda: operasional yang kuat, namun dihantam badai di lini keuangan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar