IHSG Diperkirakan Masih Tertekan Pekan Depan, Dipengaruhi Inflasi, Rupiah, dan Arus Modal Asing

- Senin, 08 Juni 2026 | 09:40 WIB
IHSG Diperkirakan Masih Tertekan Pekan Depan, Dipengaruhi Inflasi, Rupiah, dan Arus Modal Asing

Pasar saham domestik diproyeksikan masih harus menempuh jalan terjal pada pekan perdagangan 8 hingga 12 Juni mendatang, setelah mengalami koreksi tajam sebesar 8,69 persen pada pekan sebelumnya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih minim sentimen pendorong dan dibayangi oleh tren penurunan yang cukup kuat.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menjelaskan bahwa kejatuhan indeks pada pekan lalu merupakan akumulasi dari tiga faktor berat. Pertama, rebalancing indeks FTSE yang memicu aksi jual paksa pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti DSSA, GOTO, dan NCKL. Kedua, lonjakan inflasi Mei yang mencapai 3,08 persen secara tahunan. Ketiga, melemahnya nilai tukar rupiah ke atas Rp18.000 per dolar AS yang memicu arus keluar modal asing hingga Rp7,4 triliun di pasar reguler.

“Kombinasi ketiga faktor tersebut membentuk tekanan yang sulit diimbangi oleh aliran dana domestik, menjadikan pekan ini sebagai salah satu yang paling berat bagi IHSG dalam beberapa bulan terakhir,” kata Hari dalam risetnya, Senin (8/6/2026).

Memasuki periode tersebut, pergerakan IHSG diprediksi akan sangat bergantung pada rilis sejumlah data ekonomi makro dalam negeri. Data tersebut berfungsi sebagai indikator daya beli masyarakat dan ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Pada Senin (8/6/2026), pasar akan mencermati rilis data cadangan devisa untuk bulan Mei 2026. Jika angka ini melemah, kekhawatiran terhadap kapasitas Bank Indonesia dalam membentengi nilai tukar rupiah diprediksi akan meningkat.

Sementara itu, pada Rabu (10/6/2026) akan dirilis data keyakinan konsumen untuk Mei 2026, dan pada Kamis (11/6/2026) menyusul data penjualan eceran untuk April 2026. Di sisi lain, efek lanjutan dari penyesuaian indeks FTSE Russell yang baru akan berlaku efektif pada 22 Juni 2026 dinilai masih akan meninggalkan beban tekanan jual pada saham-saham terkait.

“Secara fundamental, IHSG masih berada dalam tekanan yang cukup berat. Kombinasi inflasi Mei yang melampaui ekspektasi, rupiah yang telah menembus Rp18.000, dan total net foreign sell year to date yang telah mencapai Rp60,8 triliun mencerminkan erosi kepercayaan investor yang sistemik,” tutur Hari.

Tekanan bagi pasar modal domestik pekan ini juga diperberat oleh kondisi eksternal. Bursa saham Wall Street terpukul pada akhir pekan lalu, dipimpin oleh kejatuhan indeks Nasdaq sebesar 4,18 persen ke level 25.709 akibat aksi ambil untung massal di sektor semikonduktor. Kondisi global kian menantang setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (NFP) untuk bulan Mei melonjak drastis ke angka 172.000, jauh di atas konsensus yang hanya sebesar 80.000.

Data tersebut mengerek imbal hasil obligasi AS (yield UST 10-tahun) ke atas 4,5 persen dan memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. “Sentimen semakin tertekan oleh rilis NFP Mei yang jauh melampaui ekspektasi, mendorong yield UST 10-tahun menembus 4,5 persen dan probabilitas kenaikan Fed Funds Rate akhir tahun melonjak ke 72,7 persen. Ini menjadi angin kepala bagi growth stocks,” kata Hari.

Di samping itu, likuiditas global diyakini akan tersedot secara masif menjelang pencatatan perdana saham SpaceX di bursa Nasdaq pada 12 Juni mendatang. Target penggalangan dana yang fantastis, senilai 75 miliar dolar AS, disebut berpotensi menjadi liquidity event terbesar dalam sejarah. “Puncaknya, SpaceX dijadwalkan melakukan pricing pada 11 Juni dan mulai diperdagangkan pada 12 Juni. Peristiwa ini dapat memperparah volatilitas jangka pendek, terutama jika data CPI kembali mengejutkan di atas ekspektasi dan memperkuat narasi higher-for-longer The Fed,” ujar Hari.

Melihat struktur tren teknikal yang belum memperlihatkan tanda-tanda pembalikan arah yang sah, IPOT menyarankan pelaku pasar untuk menerapkan strategi bertahan dan tidak bersikap agresif dalam melakukan pembelian berulang saat harga turun. Investor disarankan membatasi porsi pada saham-saham lapis kedua dan ketiga yang memiliki likuiditas tipis, serta menunggu sinyal dasar harga yang solid dari pergerakan harga saham dan stabilisasi kurs rupiah.

Namun, momentum koreksi ini tetap bisa dicermati oleh investor jangka menengah secara disiplin dan bertahap. “Bagi investor jangka menengah, manfaatkan momentum ini untuk selektif mencermati saham-saham big caps di sektor perbankan dan consumer staples yang valuasinya sudah sangat atraktif secara historis. Namun, tetap masuk secara bertahap dengan alokasi porsi kecil sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter BI,” pungkas Hari.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar