Harga Emas Menguat Hampir 1 Persen, Dolar Melemah dan Inflasi AS Melandai

- Jumat, 31 Juli 2026 | 07:20 WIB
Harga Emas Menguat Hampir 1 Persen, Dolar Melemah dan Inflasi AS Melandai

Harga emas menguat pada perdagangan Kamis (30/7/2026) seiring pelemahan dolar Amerika Serikat dan data inflasi yang mereda. Pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga setelah Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, tidak memberikan sinyal jelas soal arah kebijakan moneter ke depan.

Emas spot naik 0,91 persen ke level USD4.103,27 per troy ons. Dolar AS melemah 0,8 persen terhadap sejumlah mata uang utama, dipimpin penguatan yen Jepang. Pelemahan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi pembeli di luar negeri.

Pergerakan harga emas relatif stabil setelah Departemen Perdagangan AS melaporkan Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index turun 0,1 persen pada Juni, sesuai dengan ekspektasi ekonom dalam jajak pendapat Reuters. Namun, perlambatan inflasi ini dinilai hanya bersifat sementara karena kembali memanasnya konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, mengatakan data PCE sedikit lebih baik dari perkiraan pasar sehingga inflasi untuk saat ini masih relatif stabil. Meski demikian, ia menilai konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Menurutnya, tekanan inflasi yang sempat mereda dalam beberapa bulan terakhir berpotensi kembali meningkat, sehingga bank sentral pada akhirnya kemungkinan akan merespons kondisi tersebut.

Faktor ini turut menopang penguatan emas yang berhasil menembus area resistensi di kisaran USD4.150-USD4.200 per ons. Sehari sebelumnya, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Setelah pengumuman tersebut, Warsh menegaskan komitmennya untuk terus menekan inflasi, tetapi pernyataannya belum memberikan gambaran jelas mengenai langkah kebijakan selanjutnya. Setelah keputusan itu diumumkan, harga emas spot sempat melonjak sekitar 2 persen.

Berdasarkan FedWatch Tool dari CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada rapat The Fed 15-16 September sebesar 61 persen, turun dari sekitar 77 persen sebelum hasil rapat The Fed diumumkan. Suku bunga yang bertahan tinggi dalam waktu lebih lama umumnya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Di sisi lain, laporan pemerintah AS menunjukkan klaim tunjangan pengangguran mingguan naik lebih rendah dari perkiraan, mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja masih tetap stabil.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags