Dolar Amerika Serikat bertahan di dekat level tertinggi satu bulan pada Rabu (29/7/2026), didorong meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Pelaku pasar juga mencermati keputusan suku bunga Federal Reserve yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
Indeks dolar menguat ke 101,43 terhadap sekeranjang mata uang utama, menurut data Reuters. Dolar naik tipis terhadap yen Jepang ke level 163,88 yen, menekan mata uang Jepang yang masih berada di dekat level terlemahnya dalam 40 tahun.
Kekhawatiran inflasi turut meningkat seiring kenaikan harga minyak. Militer AS sebelumnya menyatakan berhasil mencegat sejumlah rudal balistik yang diluncurkan Iran ke arah pasukan AS di Timur Tengah.
Euro bertahan di dekat level terendah satu bulan di USD1,1386, setelah turun 0,3 persen sepanjang bulan ini. Pound sterling melemah 0,06 persen ke USD1,3282, mendekati level terendah sejak 1 Juli.
“Ada kemungkinan keputusan kebijakan FOMC dan konferensi pers Ketua The Fed akan memicu penguatan dolar lebih lanjut sehingga mendorong pasangan USD/JPY menuju level 164,” ujar Kepala Strategi Valuta Asing SMBC, Hirofumi Suzuki.
Dolar Australia relatif stabil di USD0,6973 menjelang rilis data inflasi domestik. Sementara itu, dolar Selandia Baru melemah 0,09 persen ke USD0,5782.
Artikel Terkait
Wall Street Bervariasi Menanti Laporan Keuangan Raksasa Teknologi
Citi Proyeksi The Fed Pertahankan Suku Bunga di Tengah Kenaikan Harga Minyak
Harga Emas Diprediksi Fluktuatif Pekan Depan, Investor Cermati Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed
The Fed dan Laporan Big Tech Jadi Ujian Berat Wall Street Pekan Depan