Laba Bersih Adaro Anjlok 37% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara Global

- Minggu, 08 Maret 2026 | 12:15 WIB
Laba Bersih Adaro Anjlok 37% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara Global

Kinerja keuangan PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) pada tahun 2025 ternyata tak secemerlang sebelumnya. Raksasa batu bara termal ini mencatat penurunan, baik dari sisi pendapatan maupun laba bersihnya. Angkanya cukup signifikan, lho.

Sepanjang tahun lalu, pendapatan perseroan anjlok 4,3 persen menjadi USD 4,91 miliar, atau kalau dirupiahkan sekitar Rp 80,9 triliun. Yang lebih terasa, laba bersihnya justru terjun bebas. AADI hanya meraup USD 760,2 juta, turun tajam 37 persen dari periode sebelumnya.

Menariknya, di balik penurunan itu, volume penjualan batu bara mereka justru naik 6 persen menjadi 68,73 juta ton. Produksinya juga ikut meningkat 4 persen. Tapi rupanya, kenaikan volume itu tak cukup menahan tekanan dari harga jual batu bara yang melemah di pasaran global.

Laba kotor atau bruto perusahaan pun ikut terseret, turun 14 persen ke angka USD 1,26 miliar. Marginnya pun menyusut. Begitu pula dengan EBITDA yang terkoreksi 27 persen, dengan margin yang merosot dari 31 persen menjadi 24 persen.

Penurunan laba bersih yang curam itu, menurut laporan mereka, juga dipicu oleh faktor lain. Tahun sebelumnya, AADI sempat mendapat suntikan pendapatan non-operasional yang cukup besar, yakni USD 323 juta dari penjualan saham. Nah, pemasukan satu kali itu hilang di tahun 2025, sehingga perbandingan tahun-ke-tahun jadi terlihat lebih dalam penurunannya.

Di sisi lain, ada secercah optimisme di akhir tahun. Kinerja kuartal IV-2025 ternyata menunjukkan perbaikan. Hal ini didorong oleh membaiknya harga batu bara jenis 6000 NAR di pasar Newcastle. Faktor-faktor seperti ekspektasi cuaca yang lebih dingin, menipisnya cadangan gas di Eropa, plus meningkatnya ketegangan geopolitik ikut mendongkrak sentimen pasar.

Dari sisi penjualan, mayoritas batu bara AADI tepatnya 71 persen masih dialirkan untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Sisa 29 persennya diserap industri semen dan sektor lainnya. Pasar domestik masih menjadi andalan dengan kontribusi 25 persen, disusul India (18 persen) dan China (15 persen).

Melihat ke depan, perusahaan sudah menyiapkan target. Untuk tahun 2026, mereka membidik penjualan 71,94 juta ton dengan produksi sekitar 65,82 juta ton, tentu setelah penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Posisi keuangan mereka pada akhir 2025 juga menunjukkan perubahan. Total aset turun 5 persen, sementara liabilitas atau kewajiban justru turun lebih dalam, 22 persen. Kas dan setara kas yang dimiliki perusahaan juga lebih rendah, berkurang 22 persen menjadi USD 925 juta.

Jadi, meski tahun 2025 diwarnai tantangan, geliat di kuartal terakhir dan rencana untuk tahun depan setidaknya memberi gambaran bahwa perusahaan ini sedang beradaptasi dengan dinamika pasar yang berubah cepat.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar