Kinerja keuangan PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) pada tahun 2025 ternyata tak secemerlang sebelumnya. Raksasa batu bara termal ini mencatat penurunan, baik dari sisi pendapatan maupun laba bersihnya. Angkanya cukup signifikan, lho.
Sepanjang tahun lalu, pendapatan perseroan anjlok 4,3 persen menjadi USD 4,91 miliar, atau kalau dirupiahkan sekitar Rp 80,9 triliun. Yang lebih terasa, laba bersihnya justru terjun bebas. AADI hanya meraup USD 760,2 juta, turun tajam 37 persen dari periode sebelumnya.
Menariknya, di balik penurunan itu, volume penjualan batu bara mereka justru naik 6 persen menjadi 68,73 juta ton. Produksinya juga ikut meningkat 4 persen. Tapi rupanya, kenaikan volume itu tak cukup menahan tekanan dari harga jual batu bara yang melemah di pasaran global.
Laba kotor atau bruto perusahaan pun ikut terseret, turun 14 persen ke angka USD 1,26 miliar. Marginnya pun menyusut. Begitu pula dengan EBITDA yang terkoreksi 27 persen, dengan margin yang merosot dari 31 persen menjadi 24 persen.
Penurunan laba bersih yang curam itu, menurut laporan mereka, juga dipicu oleh faktor lain. Tahun sebelumnya, AADI sempat mendapat suntikan pendapatan non-operasional yang cukup besar, yakni USD 323 juta dari penjualan saham. Nah, pemasukan satu kali itu hilang di tahun 2025, sehingga perbandingan tahun-ke-tahun jadi terlihat lebih dalam penurunannya.
Artikel Terkait
Laba Bersih ADRO Anjlok 68% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara dan Spin-off AADI
PT Liqun Investment Indonesia Resmi Akuisisi Saham Mayoritas KOKA
BNBR Terbitkan 86,7 Miliar Saham Baru, Dana Rights Issue Utamanya untuk Bayar Utang
BNBR Bakal Terbitkan 86,7 Miliar Saham Baru untuk Lunasi Utang