Secara teknikal, mereka melihat IHSG berpeluang melanjutkan penguatan, walau terbatas, untuk menguji level resistance di 9.150.
Pasar juga sedang menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. BI Rate diproyeksikan akan dipertahankan di level 4,75 persen, meski ada tekanan dari pelemahan rupiah. Katalis lain diperkirakan bakal datang dari kebijakan pemerintah, terutama di sektor-sektor seperti tekstil, komoditas, waste to energy, dan perbankan. Sektor-sektor itu berpotensi jadi tema panas pergerakan saham ke depan.
Rupiah Justru di Ujung Lain
Namun, cerita untuk rupiah sama sekali berbeda. Sementara IHSG meroket, nilai tukar rupiah malah mencetak rekor terendah terhadap dolar AS pada hari yang sama. Sentimen negatif muncul menyusul kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral.
Pemicunya adalah nominasi keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono, untuk bergabung dalam Dewan Gubernur BI. Rupiah melemah hingga menyentuh level Rp16.985 per dolar AS, tepat sebelum keputusan kebijakan moneter BI diumumkan.
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah berlangsung. Sepanjang Januari saja, mata uang kita tertekan hampir 2 persen. Ini melanjutkan penurunan 3,5 persen yang terjadi sepanjang tahun 2025.
Juru bicara presiden, Prasetyo Hadi, telah mengonfirmasi bahwa Thomas Djiwandono, yang kini menjabat wakil menteri keuangan, adalah salah satu dari tiga nama yang diajukan ke parlemen.
Menurut Daniel Tan, Manajer Portofolio Grasshopper Asset Management, penunjukan ini menambah kekhawatiran yang sudah ada. "Penunjukan keponakan Prabowo menambah kekhawatiran yang sudah ada bahwa batas defisit anggaran Indonesia berpotensi dinaikkan," ujarnya.
Ia menambahkan, langkah terbaru ini memicu keraguan lebih lanjut terhadap independensi BI. Kekhawatiran itu, ditambah bayang-bayang persoalan defisit fiskal, akhirnya mendorong rupiah ke level terendah sepanjang masa.
Jadi, gambaran pasarnya terbelah. Di satu papan, IHSG terus melesat dengan dukungan aliran dana dan optimisme tertentu. Di papan lain, rupiah terperosok oleh kekhawatiran politik dan fundamental. Sebuah kontras yang tajam di tengah dinamika ekonomi dalam negeri.
Artikel Terkait
Laba Bersih BSDE Anjlok 42% pada 2025, Meski Penjualan Tumbuh
Laba Bersih Adaro Anjlok 37% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara Global
Laba Bersih ADRO Anjlok 68% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara dan Spin-off AADI
PT Liqun Investment Indonesia Resmi Akuisisi Saham Mayoritas KOKA