Data BPS: 64,5% Pelaku UMKM Indonesia adalah Perempuan

- Minggu, 08 Maret 2026 | 17:50 WIB
Data BPS: 64,5% Pelaku UMKM Indonesia adalah Perempuan

Hari Perempuan Internasional selalu mengingatkan kita pada satu hal: peran perempuan dalam roda perekonomian itu nyata dan kuat. Mereka bukan cuma menggerakkan ekonomi keluarga, tapi juga komunitas di sekitarnya. Di Indonesia, fakta ini terlihat jelas dari geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang justru banyak digerakkan oleh para ibu dan perempuan.

Angkanya cukup mencengangkan. Data BPS 2024 menunjukkan, sekitar 64,5 persen pelaku UMKM di tanah air adalah perempuan. Itu artinya, lebih dari 37 juta perempuan sedang menjalankan usahanya sendiri. Kontribusi mereka bukan main-main. Sektor UMKM sendiri menyumbang sekitar 61 persen terhadap PDB nasional. Jadi, aktivitas ekonomi skala kecil yang sering dianggap remeh ini ternyata jadi penopang stabilitas ekonomi yang sangat nyata.

Nah, salah satu upaya konkret untuk mendukung mereka adalah melalui program PNM Mekaar. Program yang fokus pada pemberdayaan perempuan prasejahtera ini sudah menjangkau lebih dari 22,9 juta perempuan. Bantuan yang diberikan bukan sekadar suntikan modal. Ada pendampingan berkelanjutan, mulai dari pelatihan usaha, pengembangan kapasitas, sampai membangun jejaring antar-nasabah. Pendekatannya holistik.

Menurut sejumlah saksi, dampaknya pun meluas. Tidak hanya urusan keuangan keluarga yang membaik, tapi juga muncul kepemimpinan baru di tingkat akar rumput.

Riset Fisipol UGM tahun 2022 menguatkan hal itu. Sebanyak 71,86 persen nasabah PNM Mekaar disebutkan aktif dalam pengambilan keputusan keluarga, terutama soal keuangan, pendidikan anak, dan kebutuhan rumah tangga. Bahkan, dalam kelompok-kelompok pertemuan, banyak perempuan yang kini berani mengambil peran sebagai ketua kelompok. Mereka memimpin dan menggerakkan sesama anggota.

Artinya, pemberdayaan ekonomi ini membuka ruang yang lebih luas. Perempuan jadi lebih percaya diri, tidak hanya di rumah tapi juga di tengah masyarakat.

Di sisi lain, komitmen PNM juga terlihat dari pendekatan pembiayaannya. Sekitar 73 persen pembiayaan mereka kini berbasis syariah. Model ini dianggap lebih inklusif dan mudah diakses masyarakat. Upaya ini pun diakui, salah satunya melalui penghargaan "Indonesia Best Sharia Business Unit of Financial Services 2026 with Inclusive Financing Scheme to Strengthen Economic Empowerment" dari Warta Ekonomi.

Sekretaris Perusahaan PNM, Dodot Patria Ary, menekankan bahwa pemberdayaan perempuan adalah jantung dari upaya mereka.

"Kami melihat bagaimana perempuan memiliki ketangguhan luar biasa dalam menjaga kehidupan keluarga sekaligus mengembangkan usaha. Melalui PNM Mekaar, kami ingin memastikan mereka tidak berjalan sendiri. Tidak hanya melalui akses pembiayaan, tetapi juga pendampingan dan ruang belajar agar usaha mereka dapat tumbuh dan membawa harapan yang lebih baik bagi keluarga," ujar Dodot, Sabtu (8/3/2026).

Ke depannya, PNM berencana memperluas jangkauan program ini. Tujuannya jelas: agar semakin banyak perempuan Indonesia yang punya kesempatan bangkit. Mengembangkan usaha, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan akhirnya memberi kontribusi bagi masyarakat sekitar.

Karena, kalau kita jeli melihat, di balik banyak usaha kecil yang bertahan dan bahkan berkembang saat ini, seringkali ada sosok perempuan yang tak kenal lelah. Mereka yang memilih untuk terus berjuang, menjaga api harapan, dan melangkah maju untuk masa depan yang lebih baik.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar