Hunian Gudang Modern di Greater Jakarta Tembus 95,8 Persen, Pasokan Terbatas Picu Persaingan Ketat

- Jumat, 24 April 2026 | 16:00 WIB
Hunian Gudang Modern di Greater Jakarta Tembus 95,8 Persen, Pasokan Terbatas Picu Persaingan Ketat

Pasar gudang modern di Greater Jakarta lagi panas-panasnya. Menurut laporan Colliers Quarterly Property Market Report, tingkat hunian pada kuartal I-2026 tembus 95,8 persen. Angka ini cukup gila, apalagi pasokan terbatas dan permintaan terus mengalir deras.

Laporan itu bilang, kondisi ini udah kayak pasar yang super ketat. Bahkan, bisa-bisa nyaris penuh sampai akhir tahun 2026 nanti. Artinya, kalau kamu cari ruang gudang sekarang, siap-siap bersaing ketat.

Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, ngasih pandangannya. Menurut dia, sektor logistik ini terus unjuk gigi dibanding segmen properti lain. “Pasar logistik terus mencatat kinerja yang lebih unggul dibandingkan banyak segmen properti lainnya,” ujarnya Jumat (24/4/2026).

Dia nambahin, peran logistik sekarang krusial banget buat distribusi domestik dan rantai pasok yang makin rumit. Bukan cuma soal kirim barang, tapi juga soal efisiensi dan kecepatan.

Nah, bicara soal lokasi, Koridor Timur masih jadi primadona. Kawasan ini nyumbang sekitar 72,8 persen dari total pasokan gudang modern di Greater Jakarta. Kenapa? Soalnya infrastruktur di sana oke, dekat kawasan industri, dan akses langsung ke Pelabuhan Tanjung Priok. Gak heran kalau pengembang terus memanas di sana.

Total pasokan kumulatif gudang modern di wilayah ini udah mencapai sekitar 3 juta meter persegi per kuartal I-2026. Tapi, pengembang sekarang lebih selektif. Mereka gak asal bangun. Tambahan pasokan diperkirakan cuma sekitar 186.000 meter persegi per tahun sepanjang 2026-2029. Jadi, pasokan baru bakal terbatas.

Di sisi lain, permintaan juga berubah. Dulu, pasar logistik didominasi penyedia logistik pihak ketiga (3PL) dan e-commerce. Sekarang, sektor FMCG, elektronik, farmasi, bahkan industri baru kayak kendaraan listrik dan energi terbarukan ikut nimbrung. Ini menunjukkan diversifikasi yang cukup signifikan.

Perubahan ini, menurut para analis, mencerminkan pola konsumsi yang bergeser dan strategi rantai pasok yang makin kompleks. Indonesia, sebagai negara dengan nilai transaksi e-commerce terbesar di antara ‘tiger cub’ Asia Tenggara, terus mendorong kebutuhan fasilitas logistik. Mulai dari pusat distribusi, fulfillment center, sampai fasilitas last-mile di kawasan konsumsi utama.

Dengan tingkat hunian yang tinggi, pertumbuhan sewa yang stabil, dan permintaan yang kuat, pasar logistik Greater Jakarta diperkirakan bakal tetap stabil sepanjang 2026. Tapi, tantangannya jelas: ketersediaan lahan dan ruang yang makin sempit.

Pengembang disarankan fokus bangun gudang spesifikasi tinggi di lokasi strategis. Sementara penyewa, saran Ferry, lebih baik mengamankan ruang lebih awal. Soalnya, kalau nunggu, bisa-bisa kehabisan.

(Nasywa Salsabila)

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar