Jakarta Ada yang beda di Gedung Aneka Bhakti, Kementerian Sosial, beberapa waktu lalu. Suasana riuh, tapi bukan karena keramaian biasa. Kementerian Sosial menggelar Santiaji semacam pembekalan yang dirangkaikan dengan peringatan 22 tahun Taruna Siaga Bencana (Tagana). Temanya cukup mengena: "22 Tahun Mengabdi: Satu Sinergi untuk Ketangguhan Negeri".
Acara ini bukan sekadar seremoni. Ada Apel Peringatan HUT Tagana ke-22, plus Silaturahmi Akbar alias halalbihalal keluarga besar Tagana. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, hadir langsung. Bareng dia, ada Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, jajaran pejabat Kemensos, kepala dinas sosial dari seluruh Indonesia, dan tentu saja perwakilan Tagana dari 38 provinsi. Semua datang, semua berkumpul.
Di tengah acara, Gus Ipul memberikan piagam penghargaan. Bukan sekadar formalitas. Menurutnya, ini simbol apresiasi negara atas kerja keras Tagana di lapangan. Bencana datang kapan saja, dan Tagana selalu ada dari evakuasi sampai rekonstruksi. Lalu, entah siapa yang mulai, yel-yel pun menggema. Dipimpin langsung oleh Gus Ipul.
"Satu komando! Satu aturan! Satu kesatuan!" teriaknya, semangat banget.
Agus Jabo, Wakil Menteri, langsung menyambut. "One command, one action!" tegasnya, bikin suasana makin hidup.
Total ada 1.102 peserta yang hadir. Bukan cuma Tagana, tapi juga perwakilan Kampung Siaga Bencana (KSB), Pordam, Karang Taruna, Banser, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), plus kepala dinas sosial dan ketua forum koordinasi Tagana dari semua provinsi. Paduan yang cukup lengkap, ya.
Nah, dalam sambutannya, Gus Ipul cerita sesuatu yang mungkin jarang diketahui orang. Tagana, katanya, lahir dari keterbatasan. Dulu, bahkan sempat diidentikkan dengan "mobil rongsok". Iya, simbol perjuangan yang serba sederhana. Prosesnya panjang, penuh keraguan dari berbagai pihak. Bukan instan.
Tapi dari titik nol itu, sekitar 60 orang angkatan pertama mulai bergerak. Perlahan, mereka membangun fondasi. Dan seiring waktu, Tagana membuktikan diri. Sejak dideklarasikan pada 25 Maret 2004 di Lembang, Jawa Barat, organisasi ini tumbuh jadi garda terdepan kemanusiaan. Bukan pencapaian yang instan, tapi perjalanan.
"Tagana adalah bagian dari pilar-pilar Kementerian Sosial yang membantu, khususnya pada saat ada bencana di berbagai tempat," ujar Gus Ipul. "Teman-teman Tagana selalu hadir di tengah bencana, mulai dari evakuasi, kedaruratan, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi."
Dia juga menyampaikan rasa terima kasih. Bukan basa-basi. "Kami berterima kasih kepada segenap kader Tagana yang telah turut serta menanggulangi dampak bencana, menyiapkan logistik, mendirikan dapur umum, hingga memberikan dukungan psikososial," lanjutnya.
Saat ini, jumlah anggota Tagana sekitar 35 ribu orang. Tersebar di seluruh Indonesia, sampai tingkat kabupaten dan provinsi. Tapi Gus Ipul nggak cuma bangga. Dia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM. Pelatihan berkelanjutan, katanya, adalah kunci. Apalagi soal edukasi kebencanaan di masyarakat.
"Penting bagi Kementerian Sosial dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas SDM Tagana melalui pelatihan. Ke depan, Tagana juga diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat, termasuk di sekolah-sekolah di daerah rawan bencana," tuturnya.
Di sela-sela acara, Benni Suryadilaga, Ketua Forum Koordinasi Tagana Jakarta Pusat, ikut angkat bicara. Dia mengapresiasi perjalanan panjang organisasinya.
"Saya sangat senang Tagana bisa terus bertahan dan mengabdi hingga 22 tahun. Di lapangan, solidaritas antar personel menjadi kunci utama untuk menghadapi berbagai tugas kemanusiaan yang tidak ringan," katanya, menutup pernyataan dengan nada optimis.
Artikel Terkait
Sebagian Besar Lansia, Jemaah Haji Gelombang Pertama Diminta Jaga Kesehatan dan Kurangi Aktivitas di Madinah
Komisi VIII DPR Dorong Kontrak Jangka Panjang Katering Haji demi Efisiensi dan Cita Rasa Nusantara
Indonesia Peringkat Kedua Negara Paling Tangguh Hadapi Krisis Energi Global 2026, Golkar: Buah Kerja Keras Pemerintah
Bareskrim Tangkap Istri dan Dua Anak Bandar Narkoba Ko Erwin di Sumbawa