Sidang Korupsi Chromebook: Nadiem Hadirkan Guru dari Aceh hingga Papua Bantah Tudingan Kerugian Negara

- Jumat, 24 April 2026 | 00:00 WIB
Sidang Korupsi Chromebook: Nadiem Hadirkan Guru dari Aceh hingga Papua Bantah Tudingan Kerugian Negara

Jakarta – Sidang kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook kembali digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta. Kali ini, giliran kubu eks Mendikbudristek Nadiem Makarim yang angkat bicara. Mereka menghadirkan sederet ahli pendidikan dan tenaga pendidik dari berbagai daerah. Tujuannya jelas: mematahkan narasi dakwaan yang menyebut kebijakan ini inefisien dan bikin negara rugi.

Nadiem sendiri terlihat cukup emosional di persidangan. Menurut dia, kesaksian para guru itu bukan sekadar formalitas. Lebih dari itu, ini bukti nyata bahwa program digitalisasi pendidikan sudah menyentuh akar rumput. Ia yakin, cerita-cerita dari lapangan ini bisa membantah tudingan miring yang selama ini dialamatkan padanya.

“Sidang yang paling emosional buat saya. Karena tujuh guru dari Aceh sampai Papua, semuanya terbang ke sini untuk memberikan kesaksian mengenai bagaimana Chromebook mengubah pola belajar-mengajar di dalam ruang kelas mereka masing-masing,” ujar Nadiem, Kamis (23/4/2026).

Dia mengungkapkan, para guru itu bukan cuma bicara soal teori. Mereka datang dengan bukti nyata. Chromebook, kata Nadiem, benar-benar membantu proses belajar-mengajar. Apalagi, perangkat ini ternyata bisa dipakai tanpa koneksi internet. Jadi, bukan sekadar barang mahal yang cuma bisa nyala kalau ada Wi-Fi.

Denny Adelyta Tofani Novitasari, seorang guru dari Kota Sorong, Papua Barat Daya, jadi salah satu saksi. Dia cerita, biasanya ia mengajak murid-muridnya praktik kimia secara virtual. Semua itu bisa dilakukan lewat Chromebook, apalagi yang versi touchscreen.

“Anak-anak jadi lebih mudah memahami pelajaran,” katanya.

Ia juga menambahkan, perangkat itu masih berfungsi dengan baik meski sudah dipakai hampir lima tahun. Bahkan, Chromebook bisa langsung menyala tanpa perlu menekan tombol power. Ia pun mendemonstrasikannya di ruang sidang. “Tidak selalu butuh internet. Tetap bisa dipakai offline untuk akses Google Docs, Sheets, Slides, sampai Google Drive,” jelas Denny.

Cerita serupa datang dari Arby William Mamangsa, Kepala Sekolah di Kota Sorong. Menurut dia, semua kebutuhan pembelajaran sudah terintegrasi dalam satu sistem. Data guru dan siswa otomatis tersinkronisasi ke akun masing-masing.

“Ini memudahkan akses, termasuk untuk input atau upload nilai,” ungkap Arby.

Lalu ada Muhamad Firman. Mantan guru di Kecamatan Belimbing ini kini jadi Staf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Malawi, Kalimantan Barat. Ia mengaku sempat mengajar di daerah 3T tertinggal, terdepan, terluar dengan koneksi internet yang pas-pasan. Bahkan listriknya pun pakai tenaga surya.

“Saya pakai Chromebook ini untuk ngajar Matematika. Google Slide buat presentasi, Google Spreadsheet buat bikin grafik. Semua berjalan lancar meski offline,” tuturnya.

 

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar