IDXChannel – PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) akhirnya memutuskan untuk membagikan dividen tunai kepada para pemegang saham untuk tahun buku 2025. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Di satu sisi, langkah ini jadi upaya perseroan menjaga keseimbangan antara memberi imbal hasil ke investor dan memperkuat fondasi permodalan.
Dari laba bersih 2025 yang mencapai Rp505,56 miliar, pemegang saham menyetujui pembagian dividen sebesar 20 persen. Angkanya sekitar Rp101,11 miliar, atau setara Rp9,49 per saham. Menariknya, perseroan memutuskan tidak menyisihkan dana cadangan wajib. Alasannya? Mereka sudah memenuhi ketentuan minimum 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor, sesuai Undang-Undang Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007.
Sisanya, 80 persen dari laba, dialokasikan sebagai laba ditahan. Kebijakan ini, menurut manajemen, mencerminkan fokus mereka pada pertumbuhan yang berkelanjutan. Tapi ya, di saat yang sama, ini juga untuk menjaga kesehatan struktur permodalan terutama buat ekspansi ke depan.
“Pembagian dividen ini menjadi bagian dari komitmen SMBC Indonesia dalam memberikan nilai tambah secara berkelanjutan kepada pemegang saham,” ujar Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar, dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026). Ia menambahkan, langkah ini juga mencerminkan keseimbangan antara imbal hasil dan permodalan yang sehat.
Di industri perbankan, permodalan yang kuat memang jadi penopang utama. Bukan cuma buat ketahanan, tapi juga ruang ekspansi. Hal ini makin relevan di tengah ekonomi yang masih diselimuti ketidakpastian. Nah, per akhir 2025, total aset SMBC Indonesia tercatat tumbuh 2 persen secara tahunan, menjadi Rp245,9 triliun. Lumayan stabil, dan ini memberi ruang bagi bank untuk terus menyalurkan pembiayaan saat permintaan mulai pulih. Sebagai entitas bank saja (bank only), mereka membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp1,5 triliun sepanjang 2025.
Selain soal dividen, RUPST juga menyetujui perubahan susunan pengurus. Emilya Tjahjadi diangkat sebagai Direktur, sementara Linus Ekabranko Windoe masuk sebagai Komisaris Independen. Perubahan ini, kata mereka, diarahkan untuk memperkuat fokus pada segmen wholesale banking dan commercial banking. Dua segmen ini jadi tulang punggung layanan bagi korporasi nasional dan multinasional di Indonesia.
Sebagai bank universal, SMBC Indonesia mengandalkan model bisnis yang terdiversifikasi. Ada layanan digital Jenius yang menyasar generasi muda, pengelolaan kekayaan lewat Sinaya, pembiayaan berkelanjutan yang sejalan dengan ESG Global, hingga layanan untuk pensiunan dan UMKM. Semua ini jadi penopang portofolio mereka.
Diversifikasi itu juga diperkuat oleh anak usaha, seperti Bank BTPN Syariah, PT Oto Multiartha, dan PT Summit Oto Finance. Sinergi antarentitas ini memungkinkan perseroan menjangkau kebutuhan pembiayaan yang lebih luas di berbagai segmen masyarakat. Jadi, nggak cuma fokus di satu sisi.
Ke depannya, SMBC Indonesia berjanji akan terus meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman nasabah. Tentu saja, sambil tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan kualitas aset. Di tengah industri yang bertumpu pada kepercayaan, keseimbangan antara pertumbuhan dan penguatan fondasi memang jadi kunci. Entah itu untuk jangka pendek atau panjang.
(Rahmat Fiansyah)
Artikel Terkait
Prapenjualan Kota Deltamas Kuartal I 2026 Tembus Rp561,4 Miliar, Ditopang Lahan Industri dan Data Center
Astra Setujui Dividen Rp15,6 Triliun, Rp292 per Saham Cair 25 Mei 2026
Pemerintah Kawal Sertifikasi Profesi bagi 15 Ribu Peserta Program Magang Nasional Batch I
Nokia Naikkan Target Bisnis AI Setelah Laba Kuartal I Tembus Rp5,6 Triliun