Mahfud MD, pakar hukum tata negara, baru-baru ini menyampaikan sesuatu yang agak berat untuk generasi muda. Intinya begini: masa depan kalian ada di Indonesia, dan Indonesia juga butuh kalian. Jadi, hubungannya saling membutuhkan. Dua arah.
“Jadi, saling butuh kita terhadap negara ini,” katanya. Ia lalu menambahkan dengan nada yang agak keras, “Oleh sebab itu, Anda sebenarnya mati, sebelum mati kalau Anda tidak berani menyampaikan aspirasi dan menyerukan kebenaran di dalam bernegara karena negara ini milik kita.” Pernyataan ini disampaikan Mahfud saat menjadi tamu di YouTube Lider Channel TV, Rabu (15/04/2026).
Dari situ, pembicaraan kemudian bergeser ke soal kondisi hukum di Indonesia sekarang. Menurut dia, kunci buat memperbaiki hukum itu sebenarnya ada di politik. Politik harus diatur. Diatur supaya lebih berkeadaban. Bukan asal jalan.
“Agar politik itu benar-benar jujur, tidak pakai teror, tidak pakai politik uang, tidak pakai transaksi-transaksi uang maupun transaksi jabatan,” tegasnya.
Nah, di sini dia mulai membandingkan. Katanya, dulu di periode-periode sebelumnya penegakan hukum lumayan baik. Kenapa? Karena politik waktu itu tidak terlalu kotor. Proses melahirkan pemimpin tidak diwarnai transaksi macam-macam. Sayangnya, kondisi seperti itu sekarang sudah mulai luntur. Padahal, menurut Mahfud, justru itulah yang harus dijaga dan dipertahankan.
Kalau politiknya terjaga, ujarnya, dampaknya langsung ke pemilu. Pemilu bisa berjalan dengan baik. Lalu, politisi yang lahir dari proses yang bersih itu nantinya bakal ikut mengawal tegaknya hukum. Semacam lingkaran setan, tapi versi positif.
“Kenapa kok tidak ini saja yang dijaga, hanya begini kita menjaga pemilu yang baik agar nanti politisi mengawal tegaknya hukum yang baik dan seterusnya,” kata Mahfud.
Di sisi lain, ia juga sepakat bahwa Indonesia butuh pemimpin yang tegas. Pemimpin yang punya komitmen terhadap UUD 1945 dan segala dasar konstitusi. Mulai dari Pancasila sebagai ideologi, sampai hukum-hukum yang lahir setelah UUD. Semua itu harus dipegang erat.
Menurutnya, kepemimpinan seperti itu sangat dibutuhkan. Soalnya, kondisi hukum sekarang ini compang-camping. Dan seorang Presiden kata Mahfud punya kekuasaan yang besar. Keinginannya pasti diusahakan untuk terwujud. Jadi, kalau Presidennya punya niat baik, banyak yang bisa diperbaiki.
“Saya tidak menganggap Presiden tidak berbuat apa-apa, yang dibuat sudah banyak, kita harus akui. Namanya Presiden, punya peluang untuk melakukan kebaikan dan banyak sekali yang sudah dilakukan. Tapi, kita kan tetap harus memberikan catatan-catatan terhadap hal-hal yang masih menjadi masalah,” pungkasnya.
Artikel Terkait
PSM Makassar Kalahkan Persik Kediri 3-1, Tambah Tiga Poin Penting di Kandang
PSM Makassar Kalahkan Persik Kediri 3-1, Jauh dari Zona Degradasi
Kebakaran di Samarinda Hanguskan Enam Bangunan, Diduga akibat Korsleting Listrik
Permandian Lambiria di Gowa: Destinasi Wisata Alam dengan Kolam Bertingkat, Air Terjun, dan Tangga Seribu