Keberadaan satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di suatu daerah ternyata punya dampak luar biasa besarnya. Menurut hitungan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, nilai dampak eksternalitasnya bisa menyentuh angka sekitar Rp14 triliun. Angka yang fantastis, bukan? Hal inilah yang membuat Danantara begitu hati-hati dalam memilih pemenang lelang proyek PLTSa di sejumlah kota. Tujuannya jelas, agar manfaatnya benar-benar terasa, baik secara langsung maupun tidak, bagi masyarakat dan pemerintah.
Nah, terkait lelang itu, baru-baru ini Danantara sudah menetapkan pemenangnya. Dua perusahaan asal China berhasil mendapatkan proyek tahap pertama. Wangneng Environment Co., Ltd. akan menggarap PLTSa di Bekasi, Jawa Barat. Sementara Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. mendapat jatah untuk Denpasar.
“Nantinya, Danantara akan memiliki badan usaha berupa Perseroan Terbatas yang akan memegang 30 persen saham anak perusahaan hasil joint venture dengan pemenang lelang,” jelas Direktur Investasi Danantara Investment Management (DIM), Fadli Rahman, dalam perbincangan dengan media di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
“Dengan kepemilikan saham itu, maka badan usaha yang dibentuk Danantara Investasi Management bisa menempatkan direksi atau komisaris,” tambahnya.
Setelah penetapan pemenang ini, proyeknya rencananya langsung digarap mulai Juni atau Juli 2026. Targetnya, pembangkit yang masuk dalam program waste-to-energy (WTE) ini bisa beroperasi komersial kurang dari 24 bulan sejak pembangunan dimulai. Selain Bekasi dan Denpasar, masih ada dua kota lain yang menunggu pengumuman pemenang, yakni Bogor dan Yogyakarta. Semua pemenang nantinya akan bermitra dengan perusahaan lokal.
Lantas, apa sih dampak riilnya? Fadli membeberkan bahwa proyek ini diharapkan bisa mengatasi persoalan sampah di setiap kota. Manfaat ekonominya, yang bisa dihitung secara nonmoneter, disebutnya cukup besar dan berdampak luas.
“Harapannya setiap satu unit PLTSa dampak externalities-nya (dampak nonmoneter) bisa Rp14 triliun,” ucapnya.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang di Jabodetabek hingga 11 Maret
Pemerintah Targetkan Transaksi BINA Lebaran 2026 Capai Rp53 Triliun
Keterlambatan Barang Impor Ancam Stok Lebaran 2026, HIPPINDO Minta Koordinasi Pemerintah
Terminal Pulogebang Masih Sepi, Puncak Mudik Diprediksi 17-19 Maret