Subuh di Caracas pecah oleh dentuman. Serangan udara Amerika Serikat, yang dilancarkan pada Sabtu waktu setempat, mengguncang ibu kota Venezuela dan sejumlah wilayah lain. Langsung saja, respons dunia berdatangan. Dan Rusia tak tinggal diam.
Lewat Kementerian Luar Negeri, Moskow menyatakan dengan tegas bahwa aksi militer AS ini sama sekali tak bisa dibenarkan. "Hari ini, Amerika Serikat melakukan tindakan agresi bersenjata terhadap Venezuela," bunyi pernyataan resmi mereka yang dikutip AFP.
"Ini sangat mengkhawatirkan dan patut dikutuk," lanjutnya.
Tak cuma itu, mereka melihat ada sesuatu yang lebih dalam di balik serangan ini. Pernyataan itu seolah menyiratkan kekecewaan. Menurut mereka, "permusuhan ideologis telah mengalahkan pragmatisme." Sebuah kritik yang cukup tajam terhadap Washington.
Di sisi lain, dari seberang samudera, Presiden AS Donald Trump justru mengklaim kemenangan. Melalui unggahan di Truth Social, platform media sosial miliknya, Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. "Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya," tulisnya penuh keyakinan.
Informasi ini diperkuat oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Dia menyebut bahwa Maduro akan segera diadili di Amerika Serikat. Memang, pengadilan AS sudah mendakwa Maduro sejak 2020 atas kasus terorisme dan narkotika. Jadi, ini seperti babak lanjutan dari ancaman yang sudah lama digaungkan.
Namun begitu, situasi di lapangan justru penuh tanda tanya. Pemerintah Venezuela sendiri, seperti dilaporkan, mengaku tidak tahu di mana keberadaan Maduro saat ini. Caracas bahkan meminta bukti konkret dari AS bahwa pemimpin mereka itu masih hidup. Semuanya jadi berantakan dan makin rumit.
Jadi, di satu pihak ada klaim penangkapan, di pihak lain ada kabar hilang. Dunia kini menunggu perkembangan selanjutnya, sambil mencerna gelombang kecaman dari Rusia dan mungkin negara-negara lain. Situasinya benar-benar memanas.
Artikel Terkait
Gunung Dukono Erupsi, Kolom Abu Vulkanik Membumbung 1.300 Meter
Iran Hentikan Diplomasi dengan AS dan Ancam Buka Front Baru jika Israel Lanjutkan Serangan ke Lebanon-Gaza
Gunung Dukono Erupsi, Kolom Abu Vulkanik Capai 1.300 Meter di Atas Puncak
Lebih dari 10.000 WNI Korban Penipuan Daring di Kamboja Ajukan Pemulangan ke Indonesia