Serangan AS ke Venezuela: Rusia Kutuk, Maduro Hilang, Dunia Menanti

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 19:45 WIB
Serangan AS ke Venezuela: Rusia Kutuk, Maduro Hilang, Dunia Menanti

Subuh di Caracas pecah oleh dentuman. Serangan udara Amerika Serikat, yang dilancarkan pada Sabtu waktu setempat, mengguncang ibu kota Venezuela dan sejumlah wilayah lain. Langsung saja, respons dunia berdatangan. Dan Rusia tak tinggal diam.

Lewat Kementerian Luar Negeri, Moskow menyatakan dengan tegas bahwa aksi militer AS ini sama sekali tak bisa dibenarkan. "Hari ini, Amerika Serikat melakukan tindakan agresi bersenjata terhadap Venezuela," bunyi pernyataan resmi mereka yang dikutip AFP.

"Ini sangat mengkhawatirkan dan patut dikutuk," lanjutnya.

Tak cuma itu, mereka melihat ada sesuatu yang lebih dalam di balik serangan ini. Pernyataan itu seolah menyiratkan kekecewaan. Menurut mereka, "permusuhan ideologis telah mengalahkan pragmatisme." Sebuah kritik yang cukup tajam terhadap Washington.

Di sisi lain, dari seberang samudera, Presiden AS Donald Trump justru mengklaim kemenangan. Melalui unggahan di Truth Social, platform media sosial miliknya, Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. "Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya," tulisnya penuh keyakinan.

Informasi ini diperkuat oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Dia menyebut bahwa Maduro akan segera diadili di Amerika Serikat. Memang, pengadilan AS sudah mendakwa Maduro sejak 2020 atas kasus terorisme dan narkotika. Jadi, ini seperti babak lanjutan dari ancaman yang sudah lama digaungkan.

Namun begitu, situasi di lapangan justru penuh tanda tanya. Pemerintah Venezuela sendiri, seperti dilaporkan, mengaku tidak tahu di mana keberadaan Maduro saat ini. Caracas bahkan meminta bukti konkret dari AS bahwa pemimpin mereka itu masih hidup. Semuanya jadi berantakan dan makin rumit.

Jadi, di satu pihak ada klaim penangkapan, di pihak lain ada kabar hilang. Dunia kini menunggu perkembangan selanjutnya, sambil mencerna gelombang kecaman dari Rusia dan mungkin negara-negara lain. Situasinya benar-benar memanas.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar