Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Iran Tangguhkan Negosiasi dengan AS, Kekhawatiran Gangguan Pasokan Kembali Meningkat

- Selasa, 02 Juni 2026 | 08:15 WIB
Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Iran Tangguhkan Negosiasi dengan AS, Kekhawatiran Gangguan Pasokan Kembali Meningkat

Harga minyak dunia melonjak tajam pada Senin, 1 Juni 2026, memulihkan diri setelah mengalami kerugian besar sepanjang bulan lalu. Lonjakan ini dipicu oleh laporan bahwa Iran menangguhkan negosiasi dengan Amerika Serikat menyusul serangan baru antara pihak-pihak yang bertikai selama akhir pekan serta dorongan militer Israel ke Lebanon.

Presiden Donald Trump sedikit meredakan ketegangan dengan menyatakan bahwa serangan Israel yang direncanakan di ibu kota Lebanon, Beirut, tidak akan terjadi lagi. Ia juga menegaskan bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik yang dapat mengganggu pasokan minyak global.

Secara rinci, harga minyak mentah Brent berjangka untuk kontrak Agustus yang menjadi patokan minyak global naik 4,4 persen menjadi 95,16 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Juli melonjak 5,6 persen menjadi 92,30 dolar AS per barel.

Sepanjang bulan Mei, harapan akan tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran justru mendorong harga minyak turun, meskipun tidak ada terobosan signifikan yang muncul. Namun, situasi berbalik pada awal pekan ini setelah terjadi pertukaran serangan militer selama akhir pekan, operasi Israel di Lebanon, dan penangguhan negosiasi oleh Iran.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa tim negosiasi Teheran menangguhkan "dialog dan pertukaran teks melalui mediator" dengan AS. Langkah ini diambil dengan alasan aksi militer di Lebanon dan pelanggaran gencatan senjata yang sedang berlangsung dengan Washington di semua lini, termasuk Lebanon. Tasnim juga menambahkan bahwa Iran akan "sepenuhnya memblokir" Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman minyak dunia.

Menanggapi laporan tersebut, Trump menyatakan kepada NBC News bahwa ia belum "menerima kabar" mengenai penangguhan pembicaraan oleh Iran. Melalui unggahan di Truth Social, ia kemudian menegaskan bahwa "pembicaraan terus berlanjut, dengan cepat" dengan Iran.

Harga minyak baru saja pulih dari penurunan bulanan pertama sejak dimulainya perang Iran pada akhir Februari. Brent tercatat merosot 18,5 persen pada bulan Mei penurunan bulanan terburuk sejak Maret 2020 sementara WTI turun 16,9 persen, menjadi penurunan bulanan terbesarnya sejak April 2025.

Tekanan terhadap harga minyak mentah sebelumnya muncul akibat ekspektasi kesepakatan perdamaian AS-Iran dan transit aman puluhan kapal melalui Selat Hormuz di bawah pengawasan angkatan laut Iran. Namun, jalur air vital tersebut tetap hampir sepenuhnya ditutup, menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Kondisi ini mendorong harga minyak secara signifikan di atas level pra-perang sebesar 70 dolar AS per barel dan memicu guncangan inflasi di seluruh dunia.

Analis Deutsche Bank, Jim Reid dan David Folkerts-Landau, menyampaikan pandangan mereka mengenai skenario yang mungkin terjadi. "Ekspektasi dasarnya adalah kesepakatan AS-Iran tercapai selama Juni, memungkinkan pengiriman melalui Selat Hormuz dilanjutkan dan harga minyak mentah Brent turun menjadi 86 dolar AS per barel pada kuartal keempat dan 80 dolar AS per barel pada tahun 2027. Kesepakatan yang tercapai dalam beberapa hari mendatang akan menurunkan harga minyak sedikit lebih cepat pada kuartal ketiga, tetapi dampaknya terhadap makroekonomi relatif terhadap ekspektasi dasar kami akan terbatas," ujar mereka.

Di sisi lain, para analis itu memperingatkan skenario yang lebih buruk. "Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat mendorong harga Brent mendekati 150 dolar AS per barel, yang secara signifikan berdampak pada pertumbuhan global dan mendorong Eropa ke dalam resesi," kata mereka.

Mereka juga menambahkan bahwa guncangan energi telah sedikit memangkas pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global untuk tahun 2026 sejak November menjadi 3,0 persen, dan pulih menjadi 3,2 persen pada tahun 2027. "Indeks Harga Konsumen global direvisi naik tajam menjadi 3,8 persen pada tahun 2026, meningkatkan PDB nominal dan menyebabkan peningkatan siklus bank sentral global," pungkas para analis.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar