Niran, 80 Tahun, Berangkat Haji dari Hasil Menabung Jualan Kangkung Sejak 1964

- Rabu, 22 April 2026 | 18:40 WIB
Niran, 80 Tahun, Berangkat Haji dari Hasil Menabung Jualan Kangkung Sejak 1964

Rabu pagi di Bandara Soekarno-Hatta riuh dengan calon jemaah haji. Di tengah kerumunan itu, ada sosok yang menarik perhatian: Niran, seorang pria 80 tahun yang akhirnya mewujudkan impiannya. Impian yang dibangun bukan dari warisan atau tabungan mendadak, melainkan dari setumpuk kangkung yang dijualnya sejak puluhan tahun silam.

Ya, kangkung. Itulah komoditas sederhana yang setia menemani perjalanan hidupnya. Niran memulai usahanya jauh hari, tepatnya pada 1963. Awalnya, dagangannya bukan sayuran. Dia pernah menjajakan jagung rebus, kacang rebus, buah-buahan, berganti-ganti mencari yang pas.

“Tadinya mah dagang jagung rebus, kacang rebus,” kenangnya dengan suara tenang.

“Pertama sekali dagang sayuran, dagang buahan, berkali-kali ganti,” tambah Niran saat berbincang dengan awak media, termasuk iNews Media Group.

Niatan naik haji sebenarnya sudah mengakar sejak lama. Menurut pengakuannya, tekad itu mulai menguat sekitar tahun 1964. Sejak itulah, setiap lembar uang hasil berjualan dia sisihkan sedikit demi sedikit. Bukan untuk keperluan lain, melainkan khusus untuk tabungan ibadah. Kangkung yang dia jual pun bukan hasil kebun sendiri, melainkan dibeli lalu dijual kembali. Keuntungannya mungkin tak seberapa, tapi ketekunannya luar biasa.

“Sebelahan haji mah, mulai dagang tahun 64. Jagung rebus, kacang rebus, pertama dagang itu,” tuturnya menguatkan cerita.

Kini, setelah enam dekade lebih menabung dengan cara yang sangat manusiawi, impian itu jadi kenyataan. Niran berangkat bersama istrinya dalam kloter pertama Embarkasi Banten. Perjalanan suci ini dilepas secara langsung oleh Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, dan Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad. Gus Irfan bahkan menyempatkan diri menyapa pasangan sepuh ini.

Rasa syukur itu terpancar jelas dari raut wajah Niran. Dia mengaku sangat senang akhirnya bisa berangkat tahun ini. Tak lupa dia mengapresiasi pelayanan yang diberikan petugas haji.

“Alhamdulillah, bagus,” ucapnya singkat, menutup percakapan dengan senyum lega.

Kisahnya sederhana, tapi punya resonansi yang dalam. Tentang konsistensi, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap helai kangkung yang terjual adalah satu langkah lebih dekat ke Tanah Suci.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar