Rabu (22/4) lalu, suasana di Hotel Padma, Semarang, terasa cukup hangat. Bukan sekadar pertemuan formal, acara yang digelar Korlantas Polri itu lebih mirip sebuah silaturahmi. Irjen Agus Suryonugroho, sang Kakorlantas, duduk berdialog dengan perwakilan pengemudi ojek online dari berbagai penjuru Nusantara. Program bertajuk 'Polantas Menyapa dan Melayani' ini rupanya mendapat sambutan baik.
Para ketua komunitas ojol pun hadir memenuhi undangan. Dari Jawa Barat ada Iyan, disusul Nugi dari Jawa Tengah dan Asmuin dari Jawa Timur. Tak ketinggalan, perwakilan dari Bali, Sumatera Selatan, hingga Sumatera Utara turut hadir. Mereka tampak serius, namun sesekali canda tawa mewarnai diskusi.
Di sisi lain, jajaran direktur lalu lintas (Dirlantas) dari sejumlah Polda juga hadir memadati ruangan. Mulai dari Polda Jabar, Jateng, Jatim, hingga Sumatera dan Kalimantan. Mereka hadir bukan sebagai pengawas, melainkan lebih untuk mendengarkan. Beberapa pejabat utama Korlantas Polri, seperti Dirkamsel Brigjen Prianto dan Dirgakkum Brigjen Faizal, juga terlihat aktif menyimak.
Forum itu sendiri menghasilkan banyak cerita dari lapangan. Salah satunya datang dari Agem Zubir, ketua ojol Godams Sumatera Utara. Menurutnya, ada perubahan nyata dalam pendekatan Polantas belakangan ini, terutama di era Kapolri Listyo Sigit Prabowo.
"Kami di Sumut merasakan betul pergeseran paradigma ini. Dulu, sentuhannya lebih ke surat tilang. Sekarang? Lebih ke hati," ujar Agam.
Perubahan itu, lanjutnya, berdampak langsung pada hubungan antara pengemudi dan aparat. Program-program yang dijalankan dinilai lebih menyentuh kebutuhan riil di jalan. "Kami merasa lebih dipahami kondisinya. Akhirnya ya, merasa dirangkul," imbuhnya.
Agam juga menyoroti soal keselamatan. Ia mengaku merasakan penurunan angka kecelakaan belakangan ini, yang ia kaitkan dengan program Polantas. "Saat arus mudik-balik kemarin, sebagai masyarakat awam, kami lihat kecelakaannya makin turun tiap tahun. Luar biasa. Programnya memang kerja nyata," katanya penuh apresiasi.
"Keselamatan di jalan bisa tertangani dengan baik. Kami bersyukur dua tahun terakhir ini. Ini bukan ngada-ngada. Pak Kapolri kan sering mengajak teman-teman ojol, dan kami buktikan sendiri, kami rasakan langsung."
Namun begitu, ia tak menampik masih ada tantangan. Tekanan target dari aplikasi, misalnya, kerap membuat pengemudi terjepit antara mencari cuan dan menjaga keselamatan. "Tapi keinginan kami sebenarnya satu: agar jalanan aman dan tertib," tegas Agam.
Ia pun mengusulkan ide, seperti tombol darurat digital yang terhubung langsung ke polisi untuk respons lebih cepat. Baginya, ojol yang mobilitasnya tinggi bisa jadi mata dan telinga bagi aparat. "Kami kan tiap hari 24 jam di jalan. Bisa jadi mitra untuk menjaga ketertiban lalu lintas," ucapnya.
Pendapat senada disampaikan Iyan, ketua ojol Jawa Barat. Ia menegaskan sinergi antara ojol dan Polri kini bukan lagi sekadar wacana. "Sangat nyata dirasakan, terutama sejak deklarasi September lalu. Bukan cuma seremoni," ujarnya.
Ia memberi contoh konkret: bengkel dan warung komunitas ojol yang sudah berdiri di Bandung Raya. "Sudah 23 titik untuk perbaikan ringan dan sekadar nongkrong. Itu sangat membantu kami," jelas Iyan.
Kedekatan ini, menurutnya, membuat driver kini tak segan berkoordinasi. Bahkan, ia menawarkan peran lebih jauh. "Kami siap jadi bagian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Lebih baik membantu dalam hal kebaikan," tegasnya.
Sementara itu, dari sisi kepolisian, Irjen Agus Suryonugroho mengaku forum ini adalah wadah penting untuk menyerap aspirasi. "Sesuai petunjuk Bapak Kapolri, inilah program Polantas menyapa dan melayani," katanya.
"Kami selalu bersilaturahmi. Di sini kami 'belanja' persoalan, lalu kita diskusikan bersama," ujar Irjen Agus.
Baginya, kedekatan dengan masyarakat adalah kunci. Segala keluhan dan masukan dari para driver akan jadi bahan evaluasi berharga. "Intinya, kita ingin mewujudkan lalu lintas yang aman, selamat, dan tertib. Tadi diskusinya panjang, banyak persoalan yang mengemuka," pungkasnya.
Pertemuan itu akhirnya ditutup dengan harapan kolaborasi yang lebih erat. Sebuah dialog yang mungkin kecil, tapi terasa dampaknya bagi mereka yang setiap hari menghadapi riuh jalanan.
Artikel Terkait
Wanita Copet di Stasiun Tanah Abang Diamankan Massa Usai Gagal Curi iPhone
Dittipidsiber Bareskrim Bongkar Sindikat Phishing Global Berbasis di Kupang, 34 Ribu Korban
CIFOR Resmi Dirikan Sekretariat Eropa di Bonn Didukung Pemerintah Jerman
Pengacara Nadiem Protes Paksa Hadir di Sidang Meski Klien Sakit