Sembilan Tewas Termasuk Anak-Anak dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Presiden Aoun Kecam Pelanggaran Gencatan Senjata

- Kamis, 30 April 2026 | 23:15 WIB
Sembilan Tewas Termasuk Anak-Anak dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Presiden Aoun Kecam Pelanggaran Gencatan Senjata

Serangan Israel di Lebanon selatan kembali menelan korban jiwa. Sembilan orang tewas, termasuk dua anak-anak. Peristiwa ini terjadi tak lama setelah Presiden Lebanon, Joseph Aoun, angkat bicara mengecam keras apa yang ia sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata yang terus berulang oleh Israel hampir dua minggu belakangan ini.

Menurut laporan yang diterima, Kamis (30/4/2026), Israel terus melancarkan serangan meskipun gencatan senjata yang rapuh sudah diberlakukan. Gencatan senjata ini sendiri diumumkan setelah ada putaran pembicaraan langsung antara duta besar Lebanon dan Israel di Washington. Namun, nyatanya, situasi di lapangan masih jauh dari kata tenang.

Kementerian Kesehatan Lebanon, dalam pernyataannya, merinci jumlah korban. "Serangan musuh Israel di Lebanon selatan menyebabkan, dalam penghitungan awal, sembilan orang tewas, di antaranya dua anak dan lima perempuan," begitu bunyi pernyataan itu. Selain itu, 23 orang lainnya luka-luka delapan di antaranya anak-anak dan tujuh perempuan. Angka yang cukup memilukan.

Di sisi lain, Presiden Joseph Aoun sebelumnya sudah menyampaikan kecamannya. Ia berbicara di depan delegasi dari Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Isinya tak main-main: ia mengecam "pelanggaran Israel yang terus berlanjut" di Lebanon selatan. Menurut Aoun, semua ini terjadi meskipun ada kesepakatan gencatan senjata.

"Penghancuran rumah dan tempat ibadah masih terjadi," ujarnya. "Sementara jumlah korban tewas dan terluka terus meningkat dari hari ke hari." Suaranya jelas menggambarkan kekecewaan yang mendalam.

Situasi memang masih panas. Pada hari Kamis itu juga, juru bicara militer Israel malah mengeluarkan perintah evakuasi untuk delapan desa di selatan. Alasannya? Mereka punya rencana aksi militer di sana. Bayangkan, warga yang mungkin baru saja bernapas lega karena ada gencatan senjata, kini harus kembali mengungsi.

Perlu dicatat, sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 17 April, Israel sudah mendeklarasikan apa yang mereka sebut 'Garis Kuning'. Ini adalah sebidang wilayah Lebanon selebar sekitar 10 kilometer di sepanjang perbatasan. Di sana, mereka beroperasi dan menurut laporan menghancurkan desa-desa. Agak sulit membayangkan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap gencatan senjata, bukan?

Presiden Aoun, dalam kesempatan itu, juga menekankan perlunya tekanan internasional. "Tekanan harus diberikan kepada Israel untuk memastikan mereka menghormati hukum dan konvensi internasional," katanya. Ia secara spesifik menyebut agar Israel berhenti menargetkan warga sipil, paramedis, pertahanan sipil, dan organisasi kemanusiaan. Pesan ini disampaikan persis pada hari ketika tiga paramedis yang tewas akibat serangan Israel dimakamkan. Ironis, memang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar