Antam Gandeng Raksasa China, Gelontorkan Rp100 Triliun untuk Ekosistem Baterai Listrik

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 09:00 WIB
Antam Gandeng Raksasa China, Gelontorkan Rp100 Triliun untuk Ekosistem Baterai Listrik

Jakarta digegerkan oleh kabar besar dari dunia industri. PT Aneka Tambang Tbk, atau yang lebih dikenal sebagai Antam, baru saja mengumumkan kerja sama strategisnya. Mereka membentuk konsorsium dengan raksasa teknologi asal China untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik dari nol. Nilainya? Fantastis. Sekitar 6 miliar dolar AS, atau kalau dirupiahkan dengan kurs saat ini, tembus angka Rp100 triliun lebih.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, tampak bersemangat menjelaskan proyek ambisius ini. Menurutnya, untuk membangun industri baterai yang tangguh, dukungan mitra internasional masih sangat dibutuhkan. Terutama untuk urusan transfer teknologi, membuka akses pasar global, dan tentu saja, manajemen yang lebih profesional.

"Saya ulangi, arahan Bapak Presiden Prabowo, bahwa dalam rangka pengurangan sumber daya alam, baik sekarang maupun di depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara,"

Ucap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Sabtu lalu.

Bayangkan saja, kapasitas produksi baterai listrik yang ditargetkan mencapai 20 Giga Watt hour (GWh). Angka itu bukan main-main. Jika semuanya berjalan mulus, ekosistem baterai di dalam negeri ini berpotensi menjadi salah satu yang terbesar se-Asia. Imbasnya ke lapangan kerja juga signifikan, diperkirakan bisa menyerap sekitar 10.000 tenaga kerja baru. Rincian teknisnya tentu masih akan dikaji lebih dalam melalui studi kelayakan yang sedang disiapkan.

Namun begitu, manfaat proyek ini ternyata lebih luas dari sekadar mobil listrik. Bahlil menegaskan, baterai yang akan diproduksi juga dirancang untuk mendukung program energi hijau pemerintah. Misalnya, untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

"Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil, tapi ini juga di-desain untuk baterai panas surya,"

tuturnya lagi.

Kolaborasi ini melibatkan nama-nama besar. Di sisi investor global ada Huayou dan EVE Energy dari China. Sementara dari dalam negeri, Antam menggandeng IBI dan DBL. Harapannya jelas: lewat kerja sama ini, transfer teknologi bisa benar-benar terjadi. Perusahaan nasional diharapkan tak selamanya jadi penonton, tapi kelak bisa menjadi tuan rumah di industri strategis ini.

Di sisi lain, Bahlil juga menekankan peran penting perusahaan daerah. Ekosistem baterai yang dibangun nanti akan melibatkan banyak pihak di tingkat lokal. Rencananya, pengembangan akan dilakukan di Jawa Barat, sementara untuk kegiatan tambang, smelter, dan pabrik hilirisasi akan dibangun di Maluku Utara, tepatnya di Halmahera Timur. Ini upaya agar manfaat ekonomi benar-benar menyentuh daerah.

"Jadi kita, InsyaAllah ke depan, akan menjadi salah satu pemain terbesar dunia, terkait dengan bahan baku dan baterai mobil untuk menuju kepada energi baru terbarukan,"

kata Bahlil menutup penjelasannya dengan optimisme yang terasa.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar