Penulis: Redaksi TVRINews
Jakarta
Belakangan ini, frekuensi bencana di Indonesia makin sering terjadi. Dan menurut sejumlah pakar, cara kita menanganinya selama ini masih kurang tepat. Mereka bilang, pendekatan yang dipakai masih terlalu reaktif baru bergerak setelah kejadian. Padahal, yang lebih penting sebenarnya adalah pencegahan. Tapi bukan pencegahan yang basa-basi. Harusnya, kata mereka, kita mulai menyentuh akar masalahnya. Salah satunya: menghentikan eksploitasi di wilayah-wilayah yang punya risiko tinggi.
Prudensius Maring, Guru Besar Antropologi Ekologi dari Budi Luhur University, punya pandangan menarik. Menurut dia, kita selama ini terlalu gampang melabeli semua musibah sebagai “bencana alam”. Padahal, tidak selalu begitu. Cara pandang ini, kata dia, justru memengaruhi kebijakan yang diambil pemerintah. Jadi ya, ujung-ujungnya cuma bersifat pasif.
“Ketika semua dianggap bencana alam, kita cenderung pasif dan hanya fokus pada penanganan dampak. Padahal, banyak bencana berkaitan erat dengan aktivitas manusia seperti deforestasi dan eksploitasi lingkungan,” ujar Prudensius.
Ia lalu menekankan satu hal: transformasi wacana. Kalau cara kita melihat bencana berubah, kebijakan pun bisa ikut berubah. Misalnya, bukan cuma evakuasi sementara, tapi sampai ke relokasi permanen warga dari kawasan rawan. Atau bahkan menghentikan izin eksploitasi di tempat-tempat berisiko. “Mitigasi sangat ditentukan oleh cara pandang. Kalau dilihat sebagai akibat kesalahan tata kelola, maka solusinya juga harus menyasar kebijakan, bukan sekadar evakuasi sementara,” tambahnya.
Di sisi lain, Jatna Supriatna Ketua Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) juga menyuarakan hal serupa. Tapi ia menyoroti satu aspek lain yang tak kalah penting: tingkat kerentanan atau vulnerability. Setiap daerah, kata dia, punya karakteristik yang berbeda-beda. Jadi tidak bisa disamaratakan.
Menurut Jatna, bencana di Indonesia ini sebenarnya kombinasi antara faktor alam dan ulah manusia. Ambil contoh Sumatera. Di sana, bencana diperparah oleh deforestasi besar-besaran. Sementara di Riau, masalahnya lebih ke pengeringan lahan gambut. “Gambut yang dikeringkan menjadi sangat mudah terbakar, seperti bahan bakar. Ini contoh jelas bencana antroposen,” jelasnya.
Lalu di Flores? Bencana di sana memang dipicu oleh faktor alam seperti siklon. Tapi kondisinya makin parah karena tanahnya kering dan minim vegetasi. Sementara di Papua, kerusakan lingkungan akibat pembukaan lahan jadi faktor dominan yang meningkatkan risiko bencana.
Jatna menegaskan, Indonesia tidak bisa terus-terusan menggeneralisasi semua bencana sebagai fenomena alam. Ia juga menyoroti pentingnya pemetaan risiko sejak awal. Ditambah lagi, mitigasi berbasis sains harus diperkuat. “Seharusnya sebelum bencana terjadi, kita sudah tahu wilayah mana yang tidak boleh dieksploitasi dan mana yang rentan. Ini butuh perencanaan dan keterlibatan banyak pihak, termasuk akademisi,” pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews
Komentar
Artikel Terkait
Israel Konfirmasi 175 Aktivis Armada Bantuan Gaza Akan Diturunkan di Yunani
Badan Gizi Nasional Peringatkan Modus Penipuan Baru Mengatasnamakan Pejabat, Targetkan Pengelola Layanan Gizi
Peneliti BRIN Ungkap Rantai Makanan Kacau Jadi Pemicu Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu di Jakarta
Israel Intersepsi 22 Kapal Bantuan Global Sumud Flotilla di Perairan Kreta, Komunikasi Armada Terputus