Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, angkat bicara soal fitnah yang menimpa Jusuf Kalla. Modusnya? Video ceramah JK di Universitas Gadjah Mada (UGM) dimutilasi, dipotong seenaknya. Menurut Mahfud, ini sudah keterlaluan. Bukan sekadar beda pendapat, tapi sudah menyentuh isu-isu sensitif. Kebebasan politik yang berlebihan, katanya.
Padahal, kalau kita lihat, Indonesia ini sudah cukup lama berhasil menjaga kerukunan antarumat beragama. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun itu semua. Tapi sekarang, dengan manipulasi potongan video, seolah-olah kita diadu domba lagi. Ironis sekali.
“Sangat merusak menurut saya,” ujar Mahfud dalam sebuah wawancara, “karena kita sudah berhasil membangun saling pengertian antara umat beragama. Dalam beberapa tahun terakhir ini, konflik perdebatan antar pemeluk agama terbuka saja, tidak menimbulkan korban yang berbahaya, tidak menimbulkan kerusakan bagi masyarakat. Konfliknya biasa saja dan itu bisa selesai dengan baik. Itu kemajuan demokrasi.”
Wawancara itu sendiri dilakukan dengan Terusterang.id dan ditayangkan di podcast YouTube-nya, Selasa (29/04/2026) lalu.
Mahfud mengingatkan, dengan kondisi yang sudah kondusif seperti ini, seharusnya radikalisme dan terorisme bisa ditangani bersama, bahkan bisa dieliminasi. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya. Ada pihak yang memakai video JK untuk memecah belah, mengangkat isu sensitif yang sebenarnya tidak ada. Disayangkan sekali.
Apalagi, Mahfud sendiri jadi salah satu pembicara di acara yang sama. Acara rutin Ramadan di UGM itu. Ia mengungkapkan, sejak awal, setiap yang akan berceramah sudah diatur untuk tidak masuk ke kontroversi politik elektoral. Semua sudah jelas aturannya.
“Pak JK ini berbicara di acara Ramadan Public Lecture di Kampus UGM. Saya juga ikut bicara di situ, banyak orang di situ. Di Masjid Kampus UGM. Dan saya mengikuti apa yang dikatakan Pak JK itu. Justru, dia pada waktu itu menyerukan agar umat beragama tidak mencari dalil agama untuk saling membunuh. Kata Yusuf Kalla, harus damai. Pak JK waktu itu bilang, jangan sampai seperti dulu di Poso,” jelas Mahfud.
Kemudian, lanjutnya, JK menceritakan apa yang terjadi saat konflik agama dulu. Masing-masing pemeluk agama membenarkan tindakannya membunuh satu sama lain. Bahkan, secara spesifik JK menyampaikan bahwa itu salah dan kita harus hidup damai. Isinya jelas.
“Jangan terjadi kalau itu, kata Pak Yusuf Kalla. Dan Pak JK bicara konteks ketika itu. Lalu dipotong. Potongan video itu disebarkan. Potongannya mengatakan, menurut Pak JK, orang Kristen berhak membunuh orang Islam, orang Islam syahid membunuh orang Kristen. Oleh sebab itu, saya kira ini sudah menyangkut sensitif sekali. Anda boleh beda pilihan politik, tapi ini membolak-balik, atau istilah saya, memutilasi berita,” tegas Mahfud.
Menurut Mahfud, memotong video dan menjadikannya alat adu domba seperti yang menimpa JK itu sangat berbahaya. Karenanya, ia mengimbau siapa saja yang ingin melihat video ceramah JK secara lengkap untuk menontonnya di kanal YouTube UGM. Biar tidak termakan hoaks.
“Itu berbahaya, menimbulkan permusuhan. Agama itu urusan keyakinan, bukan urusan logika. Oleh sebab itu, karena ada di hati, ketika keyakinan ini tersentuh, orang mau melakukan apa saja. Yang tadinya tenang-tenang, bergerak. Karena ini tidak pakai logika lagi, soal-soal keyakinan. Merasa satu kelompok penganut agama itu harus disucikan, Tuhan-nya dan umatnya, lalu dibenturkan begitu. Itu sangat berbahaya,” ujarnya.
Bagi Mahfud, sangat beralasan kalau JK atau orang-orang yang simpati padanya melaporkan mereka yang memposting video mutilasi tersebut. Bahkan, ia menilai langkah itu memang harus dilakukan. Soalnya, sudah jelas digunakan untuk mengadu domba umat beragama.
“Ya betul. Menurut saya, laporan itu wajar, bisa dimaklumi. Dan menurut saya memang harus diselidiki, karena yang begini ini berbahaya. Kepentingan politik yang sangat sempit untuk memojokkan orang yang sudah pasti tidak sudah pasti semua orang tahu Pak JK tidak begitu kok masih tega-teganya mengatakan yang seperti itu. Menurut saya wajar kalau Pak JK itu emosinya agak memuncak dalam kasus ini. Soal ini, dia merasa sangat tersakiti, diserang secara tidak proporsional,” kata Mahfud.
Mahfud menambahkan, wajar pula kalau banyak masyarakat melihat fitnah ke JK ini memiliki intensi tertentu. Entah itu kepentingan kelompok, atau kepentingan politik. Salah satu pemicunya? JK belum lama ini meminta mantan presiden, Jokowi, untuk menunjukkan ijazahnya. Persoalan yang sebenarnya sederhana.
“Ketika mengatakan itu, persoalan ijazah, mestinya Pak Jokowi tinggal menunjukkan saja aslinya, supaya kita tidak lama berlarut debat seperti ini. Konteksnya memang ke situ. Saya kira banyak orang yang mengatakan, sudah tinggal ditunjukkan saja sekarang, selesai. Pak JK bilang begitu, lalu menjadi sasaran itu,” pungkas Mahfud.
Artikel Terkait
774 Pelanggaran Disiplin Terjadi di Kemenimipas, Bolos Kerja Mendominasi hingga 42 Pegawai Dipecat
Mentan Amran: Capaian Pangan Nasional Tak Lepas dari Peran TNI, Stok Beras Capai Rekor 5,12 Juta Ton
KPK Soroti 27.969 Bidang Tanah di Sulsel Belum Bersertifikat, Rawan Konflik dan Korupsi
Warkop Dg Anas: Meja Kopi Sederhana yang Menjadi Titik Temu Para Legenda Makassar