SURABAYA – Suaranya pecah, air matanya tak terbendung. Di ruang rapat DPRD Jawa Timur, Dewi Murniati berdiri, berjuang menceritakan ulang kejadian yang menimpa anaknya. DFH, baru 14 tahun, menjadi korban dugaan peluru nyasar. Getar di suaranya jelas terdengar oleh para anggota dewan yang hadir.
Dia datang bersama keluarga, membawa harapan dan juga beban yang berat. Kasusnya diduga berasal dari latihan menembak anggota Marinir di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya. Tapi bagi Dewi, ini bukan sekadar dugaan. Ini kenyataan pahit yang mengubah hidup putranya.
“Yang saya utamakan adalah upaya penyembuhan anak saya sampai tuntas,” ujar Dewi.
Menurut pengakuannya, proses penyelesaian kasus ini berjalan lambat dan penuh ketidakjelasan. Yang lebih menyakitkan, keluarga sempat merasakan tekanan selama penanganan perkara. Ada permintaan agar kasus ini tidak disebarluaskan, bahkan mereka diminta membuat permohonan maaf kepada institusi terkait. Upaya mereka mencari keadilan dan pertanggungjawaban seolah mentok di tembok bisu.
Harapannya kini tertumpu pada DPRD Jatim. Dewi berharap lembaga ini bisa mengawal kasusnya, memastikan hak-hak anaknya tak lagi terabaikan.
Menanggapi hal ini, Ketua Komisi C DPRD Jatim, Adam Rusydi, menyatakan sikap. Pihaknya akan segera bertindak.
“Kami akan melakukan komunikasi kepada pihak-pihak terkait dan memediasi kira-kira solusi terbaik seperti apa,” kata Adam.
Sebelumnya, pihak Marinir sudah buka suara. Mayor Ahmad Fauzi, Danhukum Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir, menyampaikan rasa prihatin dan empati atas musibah yang menimpa dua siswa SMP di Gresik. Pernyataannya itu disampaikan Kamis lalu.
“Pertama-tama kami menyampaikan turut prihatin atas terjadinya musibah yang menimpa dua siswa SMP di Gresik. Kami memahami peristiwa ini menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran bagi kita semua. Kami atas nama Komandan Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir menyampaikan rasa simpati dan empati yang tulus terhadap para korban,” ujar Ahmad.
Peristiwa itu sendiri terjadi pada 17 Desember 2025 silam, sekitar pukul sepuluh pagi. Dua siswa kelas III SMPN 33 Gresik, DFH (14) dan RQ (15), sedang berada di musala sekolah ketika tiba-tiba jadi korban. Sebuah kejadian yang seharusnya tak pernah terjadi.
Kini, tangis seorang ibu di gedung dewan itu adalah pengingat keras. Bahwa di balik laporan resmi dan pernyataan sikap, ada seorang anak yang perlu pulih dan sebuah keluarga yang masih menunggu keadilan yang nyata.
Artikel Terkait
Jennae River Land di Pangkep Tawarkan River Tubing Mulai Rp20 Ribu
Cuaca Sulsel Cerah Berawan, Waspada Hujan Ringan di Sejumlah Daerah Jumat Ini
Raffi Ahmad Penuhi Amanah Terakhir Jupe, Bantu Ibunda yang Terpuruk Ekonomi
Ketua Ombudsman RI Ditahan sebagai Tersangka Kasus Korupsi Nikel