Sekretaris Kabinet Bantah Kunjungan Luar Negeri Prabowo Sekadar Seremonial, Sebut Ada Capaian Konkret

- Senin, 01 Juni 2026 | 21:40 WIB
Sekretaris Kabinet Bantah Kunjungan Luar Negeri Prabowo Sekadar Seremonial, Sebut Ada Capaian Konkret

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membantah keras anggapan bahwa rangkaian kunjungan luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto selama ini hanya bersifat seremonial atau sekadar ajang pencitraan. Ia menegaskan bahwa berbagai lawatan dan diplomasi yang dijalankan kepala negara dalam satu setengah tahun terakhir justru menghasilkan sejumlah capaian konkret bagi kepentingan nasional.

“Jadi salah besar, kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,” ujar Teddy dalam keterangan video yang dibagikan melalui akun Instagram Sekretariat Kabinet, Senin (1/6/2026).

Dalam pernyataannya, Teddy memaparkan sederet hasil nyata dari diplomasi aktif yang ditempuh Presiden Prabowo. Salah satu pencapaian yang disorot adalah keberhasilan Indonesia menjadi anggota penuh BRICS. Menurut Teddy, keanggotaan di forum kerja sama negara-negara berkembang itu memberikan manfaat strategis, terutama dalam menjaga stabilitas pasokan energi dan pangan nasional di tengah ketidakpastian global.

“Ya sekarang ini, di tengah konflik krisis dunia, situasi negara terjamin. Stok BBM aman, harga BBM subsidi tidak naik. Stok pangan aman,” katanya.

Sementara itu, capaian lain yang tidak kalah penting adalah penyelesaian perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa. Kesepakatan yang telah dirundingkan selama belasan tahun itu akhirnya mencapai titik final di era pemerintahan Prabowo. Melalui perjanjian tersebut, berbagai produk Indonesia mendapatkan tarif nol persen untuk masuk ke 25 negara anggota Uni Eropa.

“Kemudian yang kedua, tarif 0 persen di Uni Eropa, ada 25 negara di situ. Dan ini perjanjian yang sudah diurus belasan tahun yang lalu, tapi kapan tercapai? Ya zaman Presiden Prabowo, tepatnya tahun 2025 lalu,” ujarnya.

Di sisi lain, Teddy juga menyoroti lonjakan investasi yang masuk ke Indonesia. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal, nilai investasi yang mengalir dalam satu setengah tahun terakhir mencapai sekitar Rp2.430 triliun. Angka tersebut belum termasuk komitmen investasi tambahan senilai sekitar Rp575 triliun yang dihasilkan dari kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan pada bulan lalu.

Dari sektor pertahanan, Teddy menyebutkan bahwa Indonesia kini memiliki kemampuan alat utama sistem persenjataan yang lebih kuat. Hal itu, menurutnya, merupakan hasil kerja sama dengan sejumlah negara, termasuk Prancis, Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, dan beberapa negara Eropa lainnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar