Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memproyeksikan kendaraan berbahan bakar hidrogen akan menggantikan kendaraan listrik (EV) dalam satu dekade ke depan. Menurutnya, hidrogen dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan EV yang masih menyisakan limbah baterai.
"Ini isu lingkungan, dan keyakinan saya, paling lambat 5-10 tahun ke depan hidrogen ini akan menyaingi kendaraan listrik yang berbasis baterai," ujarnya dalam acara Global Hydrogen Ecosystem 2026 di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Bahlil menjelaskan, proyeksi tersebut sejalan dengan pengembangan industri yang tengah digencarkan Jepang. Namun, ia mengakui implementasi hidrogen sebagai tenaga penggerak kendaraan masih menghadapi tantangan, terutama dari segi biaya produksi yang saat ini paling mahal dibandingkan bahan bakar lain, seperti minyak bumi, nabati, maupun listrik.
"Hidrogen memang masih mahal. Ini adalah tantangan dalam rangka bagaimana mendapatkan teknologi yang lebih efisien, agar harganya kompetitif," sambung dia.
Bahlil menggambarkan, biaya produksi B50 non-PSO yang digunakan industri saat ini sekitar Rp18.600 per liter untuk jarak tempuh 3-4 km. Sementara biaya produksi hidrogen masih jauh di atas angka tersebut. Kunci keberhasilan, menurut dia, terletak pada teknologi yang lebih efisien, kepastian pasar, investasi, dan regulasi yang mendukung.
Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk mengembangkan industri hidrogen. Bahlil menyebut ketersediaan bahan baku seperti air, gas bumi, batu bara berkalori rendah, serta potensi energi terbarukan yang melimpah dapat menjadi pondasi pengembangan hidrogen sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional.
Selain untuk kendaraan, hidrogen juga memiliki prospek luas mendukung industri petrokimia, produksi amonia biru, dan sektor industri berbasis energi bersih. Pemerintah membuka ruang kolaborasi dengan pelaku usaha, lembaga riset, dan investor. Kementerian ESDM menyatakan siap menyiapkan regulasi untuk mempercepat investasi dan implementasi teknologi hidrogen.
Menurut Bahlil, pengembangan hidrogen menjadi langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak, sekaligus mendukung target Net Zero Emission pada 2050–2060.
Artikel Terkait
Pindad Diajak Garap Tabung CNG 3 Kg, Uji Coba Masih Berlangsung di China
Pemerintah Mulai Impor Minyak Mentah dari Rusia, Bahlil: Kedaulatan Bangsa Tak Boleh Diintervensi
Bahlil Minta Pertamina dan SPBU Swasta Segera Sesuaikan Harga BBM Nonsubsidi
Musda Golkar Sulsel Digelar Setelah 10 Tahun, Gubernur Sebut Terobosan