Kemenangan Tipis Al-Hayya: Pertarungan Dua Kubu di Hamas

- Rabu, 22 Juli 2026 | 20:50 WIB
Kemenangan Tipis Al-Hayya: Pertarungan Dua Kubu di Hamas

Khalil al-Hayya terpilih sebagai pemimpin baru Hamas dengan selisih satu suara, mengalahkan mantan kepala biro politik Khaled Meshaal dalam pemungutan suara yang berlangsung sengit. Hasil akhir 35-34 ini tidak hanya menandai pergantian kepemimpinan, tetapi juga membuka tabir perpecahan internal yang telah lama membayangi gerakan perlawanan Palestina tersebut.

Al-Hayya, mantan wakil Yahya Sinwar di Gaza, merupakan anggota dewan lima orang yang memimpin Hamas sejak Sinwar terbunuh pada Oktober 2024. Kemenangannya yang tipis mencerminkan pertanyaan mendasar yang kini dihadapi Hamas: apakah gerakan ini mampu menyatukan kembali faksi-faksi yang bersaing, atau justru kemenangan al-Hayya akan memperkuat pengaruh kelompok yang paling dekat dengan Teheran.

Dari Gaza ke Diaspora

Ketika Hamas didirikan pada Desember 1987, struktur kepemimpinannya jauh lebih sederhana. Gerakan ini merupakan proyek bersama beberapa organisasi di bawah payung Ikhwanul Muslimin cabang Bilad ash-Sham, mencakup Gaza, Tepi Barat, Yordania, dan diaspora seperti Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi. Awalnya, kepemimpinan Ikhwanul Muslimin di Gaza memegang kendali penuh, dengan Majelis Syura yang mewakili berbagai wilayah di Jalur Gaza.

Namun, represi Israel segera melumpuhkan gerakan. Setelah Hamas bertanggung jawab atas sejumlah operasi perlawanan, pasukan pendudukan melancarkan kampanye penangkapan massal yang menyingkirkan hampir seluruh pemimpin tingkat pertama dan kedua. Kekhawatiran akan kelangsungan gerakan mendorong Mousa Abu Marzouk, yang sedang menempuh studi di Amerika Serikat, untuk kembali ke Gaza dan menyelamatkan organisasi yang rusak parah.

Peran aparatur pendukung luar negeri yang meningkat menjadi awal peralihan kepemimpinan dari Gaza ke diaspora. Abu Marzouk kemudian pindah ke Yordania dan menjadi kepala biro politik hingga ditangkap di Bandara JFK pada 1995. Khaled Meshaal menggantikannya dan menjabat hingga 2017.

Struktur yang Memperdalam Perpecahan

Di bawah Meshaal, Hamas mengorganisasi ulang struktur kepemimpinannya ke dalam tiga wilayah utama: Gaza, Tepi Barat, dan diaspora. Masing-masing memiliki Majelis Syura dan kepemimpinan eksekutif sendiri, bertujuan mendesentralisasi pengambilan keputusan. Namun, struktur ini justru memicu birokrasi yang membesar dan tumpang tindih mandat, menciptakan benturan kepentingan antar-cabang.

Pengusiran Hamas dari Yordania pada akhir 1990-an membawa berkah terselubung. Selama 11 tahun berpusat di Damaskus, gerakan ini memperluas hubungan internasional, termasuk membentuk poros perlawanan bersama Iran, Suriah, Hizbullah, dan Palestinian Islamic Jihad. Ketergantungan pada Iran pun semakin besar, meski Hamas tetap mempertahankan independensi di era Meshaal.

Perpecahan Akibat Arab Spring

Gelombang Arab Spring menguji hubungan dengan Iran. Hamas mendukung pemberontakan rakyat dan menolak tuntutan Iran untuk memihak pemerintah Suriah. Gerakan ini memilih meninggalkan Damaskus menuju Doha, meninggalkan hak istimewa yang telah dikumpulkan. Kepindahan ini bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan kedua Meshaal, yang seharusnya digantikan oleh Ismail Haniyeh dari Gaza.

Namun, sekutu di dalam dan luar Hamas meyakinkan Meshaal bahwa kondisi regional tidak mendukung perubahan kepemimpinan. Aturan diubah, dan Meshaal terpilih untuk periode ketiga. Keputusan ini memicu krisis internal serius dan membuka keretakan antar-faksi yang terus membesar.

Setelah kudeta di Mesir, Hamas tertekan dari dua sisi. Negara-negara Arab yang menentang pemberontakan menghukumnya, sementara Iran menghukum karena menolak berdiri di samping Suriah. Ketika Haniyeh akhirnya menggantikan Meshaal, kesulitan keuangan semakin parah. Iran mendikte bagian Hamas mana yang berhak menerima dana, memperkuat faksi pro-Iran dan memperlemah faksi oposisi pimpinan Meshaal.

Kemenangan Tanpa Mandat Mutlak

Dengan latar belakang tersebut, kemenangan tipis al-Hayya ditafsirkan oleh sebagian kalangan sebagai kemenangan bagi kubu pro-Iran. Hingga beberapa tahun lalu, faksi ini hanya minoritas kecil. Namun, persepsi bahwa Iran adalah satu-satunya negara yang bersedia mendukung Hamas, ditambah keyakinan bahwa Iran keluar dari perang dengan kondisi lebih kuat, membuat faksi ini semakin kuat.

Meski demikian, hasil pemungutan suara yang sangat tipis menunjukkan Hamas masih terbelah secara mendalam. Al-Hayya mungkin menang, tetapi margin satu suara tidak memberikan mandat mutlak bagi satu faksi untuk meminggirkan faksi lainnya. Bagi mereka yang menilai kepemimpinan dari kharisma, Meshaal tetap lebih menonjol. Namun, Hamas secara historis tidak bergantung pada karisma individu, melainkan pada kejelasan visi dan persatuan.

Tantangan Utama Al-Hayya

Tantangan terbesar al-Hayya bukan sekadar memimpin Hamas melewati masa-masa regional yang sulit. Ia harus bekerja sama dengan para rekannya untuk memperbaiki keretakan internal yang telah berkembang selama lebih dari satu dekade. Menyatukan kembali faksi-faksi yang bersaing dan menjaga independensi visi politik gerakan akan menentukan apakah pemilihan ini menjadi awal kohesi yang terbarukan, atau justru babak baru penguatan satu kubu dengan mengorbankan gerakan secara keseluruhan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags