Para pemimpin Hamas telah bertemu dengan utusan khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Jared Kushner, di Mesir dalam upaya mendorong rencana perdamaian Gaza yang sebelumnya ditolak Israel. Pertemuan tersebut berlangsung di kota Alamein dan dihadiri sejumlah pejabat tinggi, termasuk pemimpin politik Hamas, Khalil al-Hayya, serta perwakilan dari Mesir, Qatar, dan Turki.
Seorang sumber Palestina yang mengetahui jalannya pertemuan mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Hamas memberikan pengarahan kepada Kushner mengenai pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel di Gaza. Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa Kushner menegaskan penolakan AS terhadap rencana penggusuran warga Gaza. Pejabat lain yang akrab dengan masalah ini menambahkan bahwa pertemuan itu bertujuan untuk menerjemahkan kewajiban peta jalan menjadi langkah-langkah konkret yang dapat dijalankan.
"Ini adalah tindakan yang menjaga gencatan senjata; mulai mentransfer semua tanggung jawab pemerintahan kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza; memastikan bahwa Hamas tidak memiliki peran dalam administrasi Gaza di masa depan," kata sumber tersebut, yang bukan anggota Dewan Perdamaian maupun pejabat AS. "Tidak boleh ada keraguan: Hamas harus melepaskan kekuasaan pemerintah dan semua senjata serta infrastruktur militer. Dan Gaza tidak boleh lagi menjadi sumber teror bagi Israel," tambahnya.
Selain Kushner, hadir pula utusan Dewan Perdamaian, Nickolay Mladenov, dan mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, yang juga anggota dewan. Kepala intelijen Mesir, Hassan Rashad, diplomat Qatar, Ali Al Thawadi, dan seorang pejabat senior Turki turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Hamas Minta Israel Dipaksa
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu, Hamas menegaskan "penerimaan" terhadap peta jalan fase kedua rencana Trump selama pertemuan dengan delegasi mediator dan penjamin perjanjian gencatan senjata. Hamas menyatakan bahwa mereka sepenuhnya mematuhi fase pertama perjanjian, namun Israel dinilai gagal melaksanakannya dengan meningkatkan operasi militer dan memperdalam bencana kemanusiaan.
"Hamas dan gerakan perlawanan sepenuhnya mematuhi fase pertama perjanjian gencatan senjata," bunyi pernyataan tersebut. Namun, Israel "gagal melaksanakan fase ini, meningkatkan operasi militernya di lapangan dan memperdalam bencana kemanusiaan, serta secara tegas menolak peta jalan tersebut," tambah Hamas.
Hamas juga menyerukan kepada mediator dan Dewan Perdamaian untuk "memaksa pendudukan [Israel] untuk melaksanakan semua kewajibannya pada fase pertama, mengakhiri semua pelanggaran, menghentikan pembunuhan dan serangan, menyetujui peta jalan untuk fase kedua rencana Presiden Trump dan mulai mengembangkan jadwal pelaksanaannya".
Kunjungan Kushner ke Israel dan Mesir merupakan upaya untuk mempersempit perbedaan pendapat mengenai peta jalan terbaru Trump untuk Gaza, yang pekan lalu ditolak oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan menyebutnya "tidak dapat diterima".
Selama bertahun-tahun, AS menolak kontak dengan Hamas yang diklasifikasikan sebagai organisasi teroris. Namun, pemerintahan Trump semakin terbuka melakukan kontak langsung dengan harapan mengakhiri perang genosida Israel di Gaza.
Menurut kantor berita Reuters, al-Hayya dari Hamas juga bertemu secara terpisah dengan kepala intelijen Mesir pada hari yang sama. Sementara itu, Kushner bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi setelah pertemuan dengan Hamas. Kantor presiden Mesir menyatakan bahwa selain Gaza, keduanya membahas hubungan bilateral dan kemitraan strategis.
Serangan Israel Berlanjut
Pada hari Minggu, para menteri luar negeri dari delapan negara – Mesir, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, Indonesia, Pakistan, Turki, dan Arab Saudi – mengutuk penolakan Israel terhadap peta jalan untuk Gaza, menyebutnya sebagai "serangan langsung" terhadap upaya perdamaian yang dipimpin AS dan kedaulatan negara Palestina. Mereka memperingatkan bahwa Israel kini memikul tanggung jawab penuh atas terhambatnya rencana tersebut dan mendesak Washington untuk turun tangan menegakkan kepatuhan.
Seorang pejabat senior Israel mengatakan bahwa Kushner dan Mladenov bertemu dengan Netanyahu pada hari Senin. Pejabat itu mengungkapkan kekhawatiran Israel atas tuntutan Washington untuk mengakhiri pembunuhan terarah terhadap pejuang Hamas di Gaza.
Trump mengumumkan peta jalan tersebut bulan lalu dengan menyebutnya sebagai rencana untuk mengakhiri perang yang telah disetujui kedua belah pihak. Rencana itu mencakup pelucutan senjata Hamas seiring penarikan pasukan Israel, serta pembangunan kembali Gaza di bawah pemerintahan sipil Palestina yang baru. Hamas mengatakan telah menyetujui rencana tersebut untuk menghindari dimulainya kembali perang, tetapi implementasinya bergantung pada Israel yang memenuhi komitmennya, termasuk menarik pasukan dan menghentikan serangan.
Meski gencatan senjata diberlakukan sejak Oktober 2025, Israel kembali melancarkan serangan udara ke Gaza dalam beberapa hari terakhir. Sedikitnya lima warga Palestina terluka pada hari Minggu setelah serangan Israel menghancurkan tenda di Khan Younis, dan serangan udara terpisah menghantam sebuah apartemen di kamp pengungsi Nuseirat, melukai beberapa orang. Menurut sumber resmi Palestina, tembakan Israel telah menewaskan lebih dari 1.250 warga Palestina sejak gencatan senjata dimulai, dan total korban tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023 kini mencapai lebih dari 73.300 jiwa.
Artikel Terkait
Kushner Tinggalkan Yerusalem Tanpa Terobosan, Gencatan Senjata Gaza Masih Jauh
Kapal Aktivis Berlayar dari Bristol untuk Tembus Blokade Gaza
Sinyal Perubahan: Dari Ancaman Fidan hingga Pertemuan Kushner dengan Hamas
Menteri Israel Serukan Pembunuhan 30-40 Warga Gaza Setiap Malam