Sebuah kapal yang membawa belasan aktivis berlayar dari Bristol, Inggris selatan, pada Minggu (16/8) sebagai bagian dari upaya armada internasional untuk menembus blokade Israel atas Gaza. Kapal bernama 'Kate' itu dilepas keberangkatannya dari Hannover Quay di Bristol, kota yang dikenal dengan semangat progresifnya dan diwakili oleh Partai Hijau.
Di antara 12 aktivis yang ikut serta, hadir Swee Ang, dokter sekaligus pendiri Medical Aid for Palestinians; Leigh Evans, perawat asal Wales yang sempat terekam berlutut di hadapan tentara Mesir pada Juni 2025 saat memohon izin untuk menyalurkan bantuan ke Gaza; serta David Miller, profesor yang baru memenangkan sengketa hukum melawan Universitas Bristol terkait pandangan anti-Zionisnya.
Kapten kapal, Fiacc O Brolchain, pelaut asal Irlandia yang sebelumnya sempat ditahan pasukan Israel dalam misi awal tahun ini, mengaku alat bantu dengarnya disita saat diinterogasi. "Saya terus-menerus mengatakan kepada tentara Israel, 'Saya tidak bisa mendengar Anda; Anda mengambil alat bantu dengar saya'," ujarnya.
Sejak 2010, Israel telah mencegat atau menyerang setiap armada yang mencoba menembus blokade Gaza, termasuk di perairan internasional. Frank Romano, anggota Freedom Flotilla Coalition dan pengacara internasional yang pernah menangani kasus Palestina di Mahkamah Internasional (ICJ), mengatakan bahwa sejak Oktober 2023, pasukan Israel telah mencegat dan menahan lebih dari 75 kapal solidaritas. Ia telah menempuh jalur hukum untuk mendapatkan kembali kapal-kapal tersebut, namun sejauh ini hanya berhasil mengambil kembali dua kapal.
Romano sendiri adalah pemilik kapal 'Handala', yang dinamai sesuai karakter ciptaan mendiang seniman Palestina Naji al-Ali. Kapal tersebut sempat dicegat dan ditahan pada Juli 2025. Global Sumud Flotilla yang menurut Romano sejauh ini menelan biaya 24 juta dolar AS dan melibatkan puluhan kapal dalam berbagai gelombang memulai misi pertamanya tahun lalu dan meluncurkan misi yang jauh lebih besar pada April.
Aktivis asal Swedia, Greta Thunberg, turut bergabung dalam gerakan ini dan termasuk di antara penumpang armada yang ditahan Israel ketika kapal mereka, Alma, dicegat pada Oktober. Ia termasuk di antara mereka yang mengaku mengalami kekerasan fisik dan psikologis selama masa penahanan. Israel membantah tuduhan tersebut.
Colm Byrne, aktivis asal Irlandia yang kembali berlayar setelah berpartisipasi dalam upaya flotila sebelumnya, menuturkan bahwa pada April, ia berada lebih dari 1.000 km (620 mil) dari Gaza ketika pasukan Israel melakukan pencegatan. Para anggota flotila ditendang, dipukuli, dan dipaksa mengambil posisi tubuh yang menyakitkan serta mempermalukan. Ia sendiri mengalami cedera bahu. "Kami dipaksa berlutut selama empat jam dengan tangan terikat di belakang punggung sebelum dipindahkan ke penjara; di sana, kami dipaksa berjalan dengan kepala tertunduk, atau jika tidak, diancam akan ditampar," ungkap Byrne.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa perlakuan buruk yang dialaminya tidak sebanding dengan penyiksaan yang dialami para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.
Artikel Terkait
Kushner Tinggalkan Yerusalem Tanpa Terobosan, Gencatan Senjata Gaza Masih Jauh
Sinyal Perubahan: Dari Ancaman Fidan hingga Pertemuan Kushner dengan Hamas
Menteri Israel Serukan Pembunuhan 30-40 Warga Gaza Setiap Malam
Netanyahu dan Kushner Berseberangan Soal Operasi Pembunuhan di Gaza