Di Balik Angka: Ketika Anak Tak Lagi Merasa Aman di Sekolah
Lingkup pendidikan kita sering kali terasa seperti perlombaan. Sekolah dan orang tua sibuk mengejar nilai tinggi, peringkat kelas, dan sederet target pencapaian. Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana perasaan anak di tengah semua tekanan ini? Ada satu hal krusial yang kerap terlupakan di balik deretan angka rapor: rasa aman dan nyaman secara emosional. Tanpa fondasi itu, semangat belajar anak bisa menguap begitu saja.
Psikolog anak Anastasia Satriyo, M.Psi., dengan tegas menyoroti hal ini.
Ucapannya itu seperti tamparan. Ia mengungkap bahwa banyak gejala seperti sulit fokus, kecemasan, atau hilangnya minat belajar, sebenarnya berakar dari kondisi emosional yang tidak aman.
Lalu, seperti apa rasa aman itu? Menurut Anastasia, itu muncul saat anak merasa diterima apa adanya. Tidak dihakimi, apalagi ditakuti. Dalam keadaan tenang seperti inilah, otak anak siap menerima pelajaran. Bagian otak yang bertugas untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah bisa berfungsi maksimal. Anak pun jadi lebih rileks. Mereka berani mencoba hal baru dan tidak terlalu fobia terhadap kesalahan.
Namun begitu, situasinya bisa berbalik seratus delapan puluh derajat. Coba bayangkan ketika anak didera tekanan: takut dimarahi karena salah, takut dibandingkan dengan teman, atau merasa dirinya tak cukup pintar. Pada momen-memenum seperti itu, yang aktif adalah mode "bertahan hidup".
jelas Anastasia. Jadi, yang kita anggap sebagai kemalasan, bisa jadi adalah mekanisme pertahanan diri.
Pada dasarnya, belajar itu lebih dari sekadar menghafal rumus atau tanggal peristiwa. Ini adalah proses yang bersifat relasional. Di benak anak, selalu ada pertanyaan mendasar yang mengawali segalanya: Apakah di tempat ini aku merasa aman untuk mencoba?
Masalahnya, sistem kita kerap terjebak pada pencapaian akademik semata. Fokus berlebihan pada nilai dan peringkat tanpa sadar menyampaikan pesan keliru: kamu hanya berharga jika berprestasi. Alhasil, anak-anak pun terlatih untuk mengejar hasil akhir, bukan menghargai proses belajar itu sendiri.
Artikel Terkait
Iran Perkuat Arsenal dengan 1.000 Drone Canggih di Tengah Ketegangan dengan AS
Lemak Trans: Musuh Tersembunyi yang Merenggut 670 Ribu Nyawa Tiap Tahun
Drama Comeback Irak Taklukkan Korea Selatan di Piala Asia Futsal
Eliano Reijnders Siap Gempur Persis Solo, Peringatkan Bahaya Kejutan di Manahan