Iron Dome Kewalahan, Iran Klaim Punya Cadangan Rudal untuk Dua Tahun Perang

- Senin, 16 Maret 2026 | 03:40 WIB
Iron Dome Kewalahan, Iran Klaim Punya Cadangan Rudal untuk Dua Tahun Perang

Sudah dua pekan perang berkecamuk. Amerika Serikat dan Israel masih bertempur melawan Iran, dan belum ada tanda-tanda gencatan senjata. Di lapangan, serangan balasan Teheran ternyata tak main-main. Rudal-rudal mereka terus menghujani wilayah dan aset penting kedua negara itu.

Israel, khususnya, mendapat tekanan berat. Hujan rudal Iran seolah tak ada habisnya. Menurut kabar yang beredar, sistem pertahanan udara Iron Dome mereka mulai kewalahan. Stok pencegat rudal dilaporkan kritis, nyaris habis, karena terlalu banyaknya serangan yang harus dihadapi.

Sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, Iran telah meluncurkan ribuan rudal. Klaim Washington bahwa stok rudal Iran akan segera tandas ternyata meleset. Kenyataannya, serangan dari Teheran justru makin menjadi.

Lalu, seberapa besar sih kemampuan Iran? Ternyata, mereka sudah lama bersiap. Pasca bentrokan 12 hari dengan Israel di pertengahan 2025, seorang pejabat tinggi militer Iran pernah buka suara.

"Saat ini, gudang, pangkalan rudal bawah tanah, dan fasilitas yang kami miliki sangat besar. Kami bahkan belum memperlihatkan sebagian besar kemampuan rudal efektif kami," ujar Mayor Jenderal Ebrahim Jabbari, Penasihat Militer IRGC, dalam sebuah wawancara.
"Kalau perang dengan Israel dan AS benar-benar terjadi, fasilitas kami tidak akan habis. Bahkan jika kami harus meluncurkan rudal setiap hari selama dua tahun penuh," tegasnya waktu itu.

Pernyataan Jabbari itu jika benar sungguh mencengangkan. Artinya, Iran punya cadangan untuk menyerang tanpa henti selama 24 bulan. Ini jelas menunjukkan bahwa mereka telah mengantisipasi konflik berkepanjangan sejak lama.

Dampak perang ini pun merembet. Negara-negara tetangga di kawasan Teluk, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang menampung pangkalan militer AS, ikut merasakan imbasnya. Belum lagi langkah Iran yang menutup Selat Hormuz. Langkah itu langsung mengguncang pasar global, mendorong harga minyak melambung hingga tembus angka 100 dolar AS per barel. Situasinya makin rumit saja.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar