Efeknya bisa sangat panjang. Anastasia memperingatkan, anak yang kesulitan secara akademik mudah sekali mencap dirinya "bermasalah". Padahal, bisa jadi gaya belajarnya saja yang tidak cocok dengan metode pengajaran di sekolah. Kondisi ini, jika dibiarkan, akan mengikis rasa ingin tahu alami mereka. Padahal, rasa ingin tahu itulah bahan bakar utama pembelajaran yang sehat.
Di sinilah pendekatan reflektif menemukan relevansinya. Melalui refleksi, anak diajak melihat bahwa dirinya bukan cuma sekadar angka di kertas. Mereka belajar mengenali kekuatan, juga area yang perlu dikembangkan. Yang terpenting, mereka paham bahwa kegagalan tidak lantas membuat mereka tidak berharga.
tegas Anastasia.
Pendekatan semacam ini mulai diterapkan oleh sejumlah sekolah yang ingin menciptakan pengalaman belajar lebih bermakna. Ezra Alexander, Head of School NJIS, sepakat bahwa kondisi emosional siswa adalah fondasi yang tak bisa diabaikan.
katanya.
Menurut Ezra, kurikulum memegang peran sentral. Itulah sebabnya NJIS memilih Kurikulum International Baccalaureate (IB), yang dirancang untuk menyeimbangkan tantangan intelektual dengan ruang untuk refleksi dan keamanan emosional.
paparnya.
Pada akhirnya, sekolah harus hadir sebagai ruang aman. Tempat yang menghargai proses, tidak memberi stigma pada kesalahan, dan tidak memuja prestasi akademik secara buta. Masa depan pendidikan, dalam pandangan Ezra, harus menjawab kebutuhan emosional dasar anak untuk membentuk pribadi yang utuh.
pungkasnya. Sebuah visi yang, jika diwujudkan, mungkin bisa mengubah wajah pendidikan kita menjadi lebih manusiawi.
Artikel Terkait
BPDP Genjot Peremajaan Sawit Rakyat, Target 120 Ribu Hektare Per Tahun
Bupati Bekasi: Saya Baru Sembilan Bulan, Masih Belajar
Waspada Hoaks, Begini Cara Cek BSU 2026 Jika Nanti Resmi Dibuka
Dewangga Ingatkan Persib: Persis Solo di Bawah Bukan Berarti Mudah