Tokyo dan Seoul sama-sama waswas. Nilai yen dan won terus merosot, dan kedua pemerintah itu kini bersiap untuk turun tangan jika gejolak di pasar valuta asing dinilai sudah keterlaluan. Pernyataan ini keluar setelah pertemuan tahunan para menteri keuangan kedua negara di ibu kota Jepang.
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, dan koleganya dari Korea Selatan, Koo Yun-cheol, secara khusus menyoroti pelemahan tajam yang baru-baru ini terjadi. Mereka sepakat untuk mengawasi dengan ketat.
"Selain itu, mereka menegaskan kembali akan memantau secara ketat pasar valuta asing dan terus mengambil tindakan yang tepat terhadap volatilitas berlebihan serta pergerakan nilai tukar yang tidak teratur," bunyi pernyataan bersama mereka, seperti dilaporkan Reuters akhir pekan lalu.
Lantas, apa pemicunya? Ketegangan di Timur Tengah, terutama konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, membuat para investor berlindung ke dolar AS. Mata uang Amerika itu menguat sebagai 'safe haven'. Nah, situasi ini justru jadi pukulan buat yen dan won. Apalagi kedua negara ini sangat bergantung pada impor minyak, yang harganya pun ikut melonjak.
Yen sendiri sempat menyentuh posisi terendah dalam 20 bulan pada Jumat lalu. Kursnya nyaris mendekati 160 yen per dolar AS sebuah batas psikologis yang bagi banyak pelaku pasar bisa memicu intervensi langsung dari Bank of Japan.
Di sisi lain, won Korea tak kalah tertekan. Mata uang itu bahkan sempat menembus level 1.500 won per dolar awal bulan ini. Itu pertama kalinya sejak krisis keuangan global 2009.
Menanggapi hal ini, Menteri Katayama menegaskan kesiapan negaranya.
“Pemerintah Jepang sepenuhnya siap merespons kapan saja, dengan mempertimbangkan dampak pergerakan mata uang terhadap kehidupan masyarakat di tengah lonjakan harga minyak. Saya yakin kedua pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai hal tersebut,” ujarnya.
Memang, Katayama kerap menyuarakan kesiapan untuk bertindak. Namun begitu, ada nuansa lain. Beberapa pengambil kebijakan secara privat menganggap upaya menopang yen saat ini mungkin sia-sia. Alasannya sederhana: selama perang terus berlangsung, permintaan terhadap dolar AS diprediksi akan tetap tinggi, sehingga tekanan pada yen sulit dihindari.
Jadi, meski komitmen untuk menjaga stabilitas mata uang sudah dinyatakan, jalan di depan masih dipenuhi ketidakpastian. Semuanya bergantung pada dinamika konflik global dan respons pasar selanjutnya.
Artikel Terkait
Penerima PKH dan Bantuan Sembako Akan Dilebur ke Koperasi Desa Merah Putih
Emas Anjlok ke Terendah Sebulan, Kekhawatiran Inflasi dan Ketegangan Iran-Timur Tengah Kembali Meningkat
UEA Resmi Keluar dari OPEC, Fokus pada Kepentingan Nasional
Wall Street Melemah, Kekhawatiran Kinerja OpenAI Tekan Saham Teknologi Jelang Rilis Laba Raksasa AS