Iran menegaskan bahwa nota kesepahaman dengan Amerika Serikat tidak akan ditandatangani pada hari Minggu, 14 Juni 2026, meskipun peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik dalam beberapa hari ke depan masih terbuka lebar. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, yang mengonfirmasi bahwa proses negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan terus menunjukkan kemajuan, namun belum mencapai tahap final.
“Kita harus menunggu dan melihat waktu pasti penandatanganan nota kesepahaman. Meski tidak akan terjadi besok, kemungkinan hal itu terjadi dalam beberapa hari ke depan tidak dapat dikesampingkan,” ujar Baghaei kepada kantor berita Tasnim. Ia menambahkan bahwa peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat tergolong sangat tinggi.
Menurut Baghaei, nota kesepahaman yang tengah dibahas saat ini berfokus pada penghentian konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa isu program nuklir Iran belum akan menjadi bagian dari tahap awal kesepakatan tersebut. Pemerintah Iran, lanjutnya, tetap berhati-hati dalam menyikapi perkembangan perundingan karena masih terdapat ketidakpastian dari pihak Amerika Serikat.
Tim negosiasi Iran, kata Baghaei, tidak memiliki rencana untuk melakukan perjalanan ke Jenewa maupun lokasi lain dalam dua hari ke depan. Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan damai semakin dekat untuk diwujudkan. Melalui unggahan di platform X pada Sabtu, Sharif menyatakan bahwa Iran dan Amerika Serikat kini berada pada posisi yang lebih dekat dibandingkan sebelumnya untuk mencapai perdamaian.
“Dengan finalisasi yang kemungkinan terjadi dalam 24 jam ke depan, Pakistan sedang mempersiapkan penandatanganan elektronik segera setelahnya,” tulis Sharif. Ia menambahkan bahwa pembicaraan tingkat teknis diperkirakan akan dilanjutkan pada pekan depan.
Perundingan yang dimediasi Pakistan ini berfokus pada upaya mengakhiri permusuhan antara Washington dan Teheran, membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional, serta mencari titik temu terkait program nuklir Iran. Pejabat Iran sebelumnya menyatakan bahwa sebagian besar isi dokumen telah disepakati kedua pihak. Namun, Teheran menuduh Washington memperlambat proses melalui perubahan sikap dan pernyataan yang dinilai saling bertentangan.
Kawasan Timur Tengah masih berada dalam kondisi tegang sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Serangan tersebut memicu aksi balasan Iran terhadap Israel dan sejumlah negara di kawasan yang menampung aset militer AS, serta berdampak pada penutupan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur energi terpenting di dunia.
Artikel Terkait
Megawati Resmikan Renovasi Istana Gebang di Blitar, Rumah Masa Kecil Bung Karno
Pemerintah Mulai Bangun Sekolah Nasional Terintegrasi, Satu di Antaranya di IKN
NasDem Kabupaten Bandung Canangkan Reborn Usai Dilantik, Target Perkuat Soliditas Hadapi Pemilu 2029
Mensos Tegaskan Seleksi Siswa Sekolah Rakyat Bebas Titipan, Khusus untuk Keluarga Tidak Mampu