Harga minyak sawit mentah atau CPO kembali menunjukkan tren positif. Pada Jumat (13/3/2026), harganya menguat dan mencatat kenaikan untuk pekan kedua berturut-turut. Apa penyebabnya? Ternyata, penguatan harga minyak nabati pesaing di pasar Dalian, China, memberi angin segar.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Mei di bursa Malaysia ditutup naik 0,51 persen, berada di level 4.564 ringgit per ton. Kalau dilihat pergerakan sepekan, kenaikannya cukup signifikan, sekitar 4,56 persen. Ini bukan kenaikan kecil.
Di sisi lain, pasar China memang tampak bergairah. Kontrak minyak kedelai dan minyak sawit di Dalian Commodity Exchange sama-sama naik lebih dari satu persen pada hari yang sama. Namun begitu, ceritanya berbeda di Chicago. Harga minyak kedelai di sana justru melemah tipis, hanya 0,04 persen.
Seperti biasa, pergerakan CPO memang kerap mengikuti minyak nabati lain. Mereka semua berebut porsi di pasar global. Jadi, naik turunnya harga di satu tempat bisa pengaruhi yang lain.
Sementara itu, dari sektor energi, ada kabar yang agak menahan laju. Uji jalan untuk biodiesel B50 di Indonesia diperkirakan molor. Menurut Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), penyelesaiannya tidak akan lebih cepat dari target awal Kementerian ESDM, yaitu sekitar Juni atau Juli tahun ini.
Namun, data produksi justru memberi sinyal bagus. GAPKI melaporkan produksi CPO Indonesia tahun 2025 mencapai 51,66 juta ton. Angka itu naik 7,3 persen dibanding tahun sebelumnya. Artinya, pasokan ada.
Permintaan pun tampaknya mengikuti. Lihat saja India. Impor minyak sawit mereka melonjak 11 persen pada Februari, mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Diskonto harga yang lebar dibanding minyak lain membuat para penyuling di sana berpaling, dan secara bersamaan menekan impor minyak bunga matahari.
Di tengah semua ini, Malaysia mengambil langkah kebijakan. Mereka menaikkan harga referensi CPO untuk bulan April. Imbasnya, bea keluar otomatis naik menjadi 9,5 persen. Keputusan ini tentu akan mempengaruhi dinamika harga ke depannya.
Oh ya, harga minyak mentah dunia sendiri juga sedang menuju kenaikan mingguan. Ini terjadi meski AS berusaha meredam gejolak pasokan dengan mengeluarkan lisensi darurat 30 hari untuk beberapa negara, agar bisa membeli minyak dan produk minyak bumi Rusia yang tertahan di laut.
Jadi, secara keseluruhan, pasar CPO pekan ini digerakkan oleh kombinasi faktor: sentimen positif dari China, permintaan kuat dari India, dan data produksi yang solid dari dalam negeri. Meski ada sedikit hambatan dari penundaan uji B50, trennya masih terlihat cukup cerah untuk sementara waktu.
Artikel Terkait
Wall Street Loyo Setelah The Fed Tahan Suku Bunga, Investor Tunggu Laporan Empat Raksasa Teknologi
Taspen Serahkan Santunan Rp283 Juta ke Ahli Waris Guru SD Korban Tabrakan Kereta di Bekasi
SIG Luncurkan Semen Hijau dengan Emisi Karbon 38 Persen Lebih Rendah
ITMG Bagikan Dividen Final Rp992 per Saham untuk Tahun Buku 2025