Saham Raksasa dan Perbankan Jadi Pemberat Utama Anjloknya IHSG

- Minggu, 15 Maret 2026 | 13:50 WIB
Saham Raksasa dan Perbankan Jadi Pemberat Utama Anjloknya IHSG

Pasar saham kita lagi terpuruk. Sepanjang pekan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok cukup dalam. Kalau kita lihat lebih dekat, tekanan besar justru datang dari saham-saham raksasa yang biasanya jadi penopang indeks. Ya, kelompok konglomerasi dan perbankan lah yang jadi pemberat utama.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, kontributor terbesar penurunan itu adalah BREN, saham energi terbarukan milik Grup Barito. Sahamnya ambles 18,45 persen, sampai ke level Rp6.300 per lembar. Dengan nilai kapitalisasi pasar bebas (MCFF) yang mencapai Rp103,67 triliun, penurunan BREN ini menyumbang penurunan IHSG sebesar 52,74 poin. Lumayan signifikan.

Nah, grup yang sama juga memberikan tekanan lewat Barito Pacific (BRPT). Sahamnya turun 11,9 persen dan ikut menekan indeks sekitar 10,61 poin.

Tapi bukan cuma Barito. Konglomerasi lain juga ikut merosot. Amman Mineral Internasional (AMMN) dari Grup Salim, misalnya, melemah hampir 20 persen. Dengan MCFF Rp66,77 triliun, koreksi ini menghapus 35,65 poin dari IHSG. Sementara itu, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dari Sinarmas turun 11,24 persen dan memberi tekanan hampir 30 poin.

Di sisi lain, sektor perbankan yang biasanya jadi andalan juga ikut-ikutan lesu. Saham BRI (BBRI) turun 4,36 persen dan berkontribusi menekan indeks lebih dari 25 poin. Bank Mandiri (BMRI) dan BCA (BBCA) pun tak ketinggalan, masing-masing memberi tekanan 17,86 dan 11,84 poin. Padahal, ketiganya adalah saham dengan kapitalisasi pasar bebas yang sangat besar.

Belum lagi saham pelat merah lain seperti Telkom Indonesia (TLKM). Saham telekomunikasi ini terkoreksi 6,9 persen dan mengurangi 23,14 poin dari pergerakan IHSG. Astra International (ASII), pemain besar di banyak sektor, juga ikut menekan dengan kontribusi penurunan 12,29 poin.

Yang cukup mencolok, saham Energi Mega Persada (ENRG) dari Grup Bakrie tercatat sebagai salah satu yang terkoreksi paling dalam, yakni 22,74 persen. Meski MCFF-nya lebih kecil, saham ini tetap memberi tekanan 10,44 poin.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Penurunan tajam ini terjadi di tengah sentimen pasar global yang memang sedang suram. Pada Jumat (13/3) lalu, IHSG merosot 3,05 persen ke level 7.137,21. Transaksi terjadi cukup ramai, dengan lebih dari 650 saham yang harganya melemah. Investor asing pun terlihat konsisten melakukan aksi jual bersih, mencapai Rp1,23 triliun dalam sepekan.

Secara mingguan, kinerja IHSG melemah 5,91 persen. Ini sudah penurunan ketiga berturut-turut. Bahkan dalam sebulan terakhir, indeks kita sudah terdepresiasi lebih dari 13 persen. Situasi yang bikin para investor was-was.

"Penurunan tajam IHSG terjadi seiring meningkatnya sentimen risk-off global," begitu penilaian dari analis BRI Danareksa Sekuritas.

Memang, tekanan global itu nyata. Mayoritas bursa saham Asia ikut melemah, mengikuti koreksi yang terjadi di Wall Street. Dari dalam negeri sendiri, ada kekhawatiran baru. Kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi menambah beban fiskal pemerintah, apalagi jika harganya melampaui asumsi APBN.

Jadi, gabungan antara sentimen global yang buruk dan tekanan pada saham-saham besar lokal akhirnya membuat IHSG terperosok cukup dalam. Ke depan, pasar masih akan menunggu isyarat dan sinyal positif untuk bisa bangkit kembali.

Perlu diingat, keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar