Pemerintah Izinkan Impor 580 Ribu Ekor Ayam Indukan AS Senilai Rp335 Miliar

- Rabu, 25 Februari 2026 | 21:00 WIB
Pemerintah Izinkan Impor 580 Ribu Ekor Ayam Indukan AS Senilai Rp335 Miliar

Pemerintah Indonesia akhirnya memberi lampu hijau untuk impor ratusan ribu ekor ayam indukan dari Amerika Serikat. Tepatnya, 580 ribu ekor ayam live poultry jenis Grand Parent Stock (GPS). Nilainya tak main-main, berkisar antara US$ 17 hingga 20 juta. Kalau dirupiahkan, angkanya bisa mencapai Rp 335 miliar lebih. Ini adalah bagian dari Perjanjian Perdagangan Resiprokal atau ART antara kedua negara.

Lalu, apa sebenarnya GPS ini? Bagi yang awam, istilah ini mungkin terdengar teknis. Intinya, dalam industri perunggasan, struktur pembibitannya berbentuk piramida. Puncaknya adalah great grandparent stock (GGP), lalu turun ke grand parent stock (GPS), kemudian parent stock (PS), dan akhirnya sampai ke ayam komersial atau final stock (FS) yang kita konsumsi.

Jadi, GPS ini adalah indukan yang akan menghasilkan parent stock. Nantinya, dari PS-lah dihasilkan DOC (day-old chick) atau anak ayam umur sehari, yang kemudian dibesarkan jadi ayam pedaging atau petelur. Singkatnya, GPS sama sekali bukan untuk dipotong dan dimakan. Perannya vital: sebagai sumber genetik utama dalam rantai produksi ayam nasional.

Sayangnya, hingga setidaknya 2026, Indonesia masih harus mengandalkan pasokan dari luar. Impor GPS, terutama dari AS dan Prancis, masih diperlukan untuk menjaga stabilitas pasokan bibit di dalam negeri.

Menurut penjelasan resmi, kendalanya ada pada teknologi.

“GPS sangat dibutuhkan peternak ayam dalam negeri sebagai sumber genetik utama dan belum ada fasilitas pembibitan GPS di Indonesia," ujar Haryo Limanseto, Juru Bicara Kemenko Perekonomian.

Teknologi rekayasa genetika yang dibutuhkan ternyata sangat mahal dan rumit, sehingga belum ada perusahaan lokal yang bisa memproduksinya secara mandiri.

Namun begitu, bukan berarti tidak ada upaya untuk mengubah ketergantungan ini. Beberapa perusahaan mulai bergerak. Salah satunya adalah Danantara Indonesia.

Perusahaan ini baru saja melakukan groundbreaking di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Proyek besarnya adalah pengembangan pembibitan GPS melalui skema hilirisasi ayam terintegrasi yang rencananya akan menjangkau 30 provinsi. Ini langkah yang cukup ambisius.

Agung Suganda, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, memaparkan rencana detailnya.

“Jadi, ini adalah kolaborasi antara pemerintah khususnya Kementerian Pertanian dengan Danantara dan BUMN IDFOOD yang nanti sebagai operator yang menjadi offtaker dalam ekosistem hilirisasi ayam terintegrasi ini,” jelas Agung.

Pada tahap awal, akan ada 18 ribu ekor ayam GPS yang dikembangkan. Diharapkan, dari jumlah itu bisa dihasilkan sekitar 130 ribu ekor DOC (Final Stock) yang nantinya akan dikelola oleh peternak rakyat.

Skema pendanaannya sendiri merupakan kolaborasi. Infrastruktur didanai oleh investasi Danantara yang disebut-sebut mencapai Rp 20 triliun. Sementara untuk peternak rakyat, pemerintah akan memfasilitasi melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Operator utama di lapangan nantinya adalah BUMN pangan.

Fasilitas pembibitan di Malang itu sendiri dibangun oleh PT Berdikari, anak usaha ID FOOD. Lokasinya di atas lahan seluas 5,6 hektar, dirancang untuk menampung 18 ribu ekor GPS. Sebuah langkah awal yang kecil mungkin, tapi bisa jadi fondasi penting untuk mengurangi ketergantungan impor di masa depan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar