Namun begitu, bukan berarti tidak ada upaya untuk mengubah ketergantungan ini. Beberapa perusahaan mulai bergerak. Salah satunya adalah Danantara Indonesia.
Perusahaan ini baru saja melakukan groundbreaking di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Proyek besarnya adalah pengembangan pembibitan GPS melalui skema hilirisasi ayam terintegrasi yang rencananya akan menjangkau 30 provinsi. Ini langkah yang cukup ambisius.
Agung Suganda, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, memaparkan rencana detailnya.
“Jadi, ini adalah kolaborasi antara pemerintah khususnya Kementerian Pertanian dengan Danantara dan BUMN IDFOOD yang nanti sebagai operator yang menjadi offtaker dalam ekosistem hilirisasi ayam terintegrasi ini,” jelas Agung.
Pada tahap awal, akan ada 18 ribu ekor ayam GPS yang dikembangkan. Diharapkan, dari jumlah itu bisa dihasilkan sekitar 130 ribu ekor DOC (Final Stock) yang nantinya akan dikelola oleh peternak rakyat.
Skema pendanaannya sendiri merupakan kolaborasi. Infrastruktur didanai oleh investasi Danantara yang disebut-sebut mencapai Rp 20 triliun. Sementara untuk peternak rakyat, pemerintah akan memfasilitasi melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Operator utama di lapangan nantinya adalah BUMN pangan.
Fasilitas pembibitan di Malang itu sendiri dibangun oleh PT Berdikari, anak usaha ID FOOD. Lokasinya di atas lahan seluas 5,6 hektar, dirancang untuk menampung 18 ribu ekor GPS. Sebuah langkah awal yang kecil mungkin, tapi bisa jadi fondasi penting untuk mengurangi ketergantungan impor di masa depan.
Artikel Terkait
Penjualan Mobil Nasional Anjlok 13,8% pada Maret 2026, Libur Panjang Jadi Penyebab
Dukcapil: Proses Cetak Ulang e-KTP Hilang Gratis dan Tanpa Surat RT/RW
Oknum Bhabinkamtibmas Grobogan Diamankan Usai Viral Minta Uang Keamanan ke Ibu-ibu
Polisi Karawang Amankan Mobil Pelaku Tabrak Lari Usai Video Viral