Harga CPO Anjlok 6% dalam Seminggu, Pasar Khawatir Produksi Musiman Kalahkan Permintaan

- Sabtu, 11 April 2026 | 12:30 WIB
Harga CPO Anjlok 6% dalam Seminggu, Pasar Khawatir Produksi Musiman Kalahkan Permintaan

Harga minyak sawit mentah atau CPO anjlok lagi pada Jumat kemarin. Kontrak acuan untuk pengiriman Juni di bursa Malaysia ditutup di level 4.538 ringgit per ton, turun 2,26 persen. Ini sekaligus mencatatkan penurunan mingguan pertama dalam enam pekan terakhir sekitar 6 persen pelemahan sepanjang pekan ini.

Tekanan datang dari kekhawatiran pasar. Di tengah perang Timur Tengah yang belum reda, ada ketakutan bahwa lonjakan produksi bakal mengalahkan permintaan yang ada. Padahal, data terbaru justru menunjukkan hal lain: stok Malaysia turun ke level terendah dalam tujuh bulan pada Maret lalu.

Menurut data resmi MPOB, persediaan memang menyusut bulan lalu. Tapi di saat bersamaan, produksi naik 7,21 persen dan ekspor malah melonjak tajam, hingga 40,69 persen. Nah, di sinilah keraguan muncul.

Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, punya pandangan yang cukup realistis. Menurutnya, kita sedang masuk puncak musim produksi antara April hingga Juni.

"Pelemahan permintaan karena perang, plus kenaikan ongkir, bakal mulai kelihatan di data ekspor 1-10 April nanti," ujarnya.

Ia menambahkan, "Kalau ekspor nggak bisa seimbangi kenaikan produksi musiman, stok akhir pasti akan naik lagi. Itu akan batesin pemulihan harga dalam jangka pendek. Ekspor harus tetap kuat, tapi lihat kondisi sekarang, hal itu sulit."

Perkiraan ekspor untuk sepuluh hari pertama April itu sendiri dijadwalkan dirilis lembaga pemantau kargo hari ini juga. Jadi, kita tunggu saja datanya.

Di sisi lain, pasar minyak nabati lain justru bergerak beragam. Di Dalian, minyak kedelai naik 0,61 persen, sementara minyak sawitnya naik lebih tinggi, 1,12 persen. Sedangkan di Chicago, harga minyak kedelai cuma menguat tipis 0,01 persen. Seperti biasa, pergerakan CPO memang kerap mengikuti harga minyak nabati pesaing karena mereka berebut pangsa pasar yang sama.

Faktor lain yang perlu dicatat adalah harga minyak mentah dunia yang naik. Kekhawatiran pasokan dari Arab Saudi dan lalu lintas tanker di Selat Hormuz yang masih terbatas mendorong kenaikan. Ini bisa jadi angin segar untuk CPO, karena membuatnya lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Bagaimana dengan permintaan? India, sebagai pembeli terbesar, punya ekspektasi. Impor mereka turun 19 persen ke level terendah tiga bulan pada Maret. Tapi ada harapan restocking menjelang musim permintaan yang biasanya meningkat.

Sementara itu, dari sisi regulasi, Indonesia selaku produsen terbesar dunia baru saja menerbitkan aturan baru. Aturan ini menguraikan jadwal pelaksanaan mandat biofuel nasional, yang tentu bisa mempengaruhi pasar ke depannya.

Jadi, meski data stok membaik, sentimen pasar masih diliputi kehati-hatian. Semuanya kembali lagi pada kemampuan ekspor menyerap produksi yang melimpah di musim puncak ini.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar