Jerman Siap Hadapi Kemungkinan Pengurangan Pasukan AS di Tengah Ketegangan dengan Trump

- Jumat, 01 Mei 2026 | 00:40 WIB
Jerman Siap Hadapi Kemungkinan Pengurangan Pasukan AS di Tengah Ketegangan dengan Trump

Jerman angkat bicara. Mereka mengaku sudah siap kalau-kalau Amerika Serikat benar-benar mengurangi jumlah pasukannya di sana. Ancaman dari Presiden Donald Trump jelas terdengar dan Berlin pun tidak tinggal diam. Pemerintah Jerman menekankan satu hal: hubungan transatlantik yang bisa diandalkan itu penting, sangat penting.

Menurut laporan dari AFP, Kamis (30/4) kemarin, Trump sedang mempertimbangkan untuk memindahkan sebagian dari puluhan ribu tentara AS yang selama ini ditempatkan di Jerman. Ini terjadi di tengah ketegangan dengan Kanselir Friedrich Merz soal perang di Iran. Jadi ya, situasinya memang agak panas.

Nah, Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, kebetulan sedang berkunjung ke Maroko ketika ditanya soal ini. Ia bilang begini:

"Kami siap untuk itu. Kami membahasnya dengan saksama, dalam semangat kepercayaan di semua badan NATO. Dan kami menunggu keputusan dari Amerika soal hal ini."

Wadephul juga menambahkan, apa pun keputusan yang diambil nanti, semuanya harus dibahas dulu dengan Jerman dan pihak-pihak lain. "Sebagaimana mestinya di antara sekutu," katanya. Nada bicaranya tenang, tapi ada tekanan di situ setidaknya itu yang saya tangkap.

Di sisi lain, Kanselir Merz sebelumnya sudah menyampaikan pandangannya. Ia bilang, pendekatan Jerman terhadap perang di Timur Tengah itu "tetap berorientasi pada NATO yang bersatu dan kemitraan transatlantik yang bisa diandalkan."

Menurut Merz, Berlin saat ini "berada dalam kontak yang erat dan saling percaya dengan mitra kami, termasuk dan terutama di Washington." Menariknya, ia tidak menyebut secara langsung ancaman dari Trump. Mungkin sengaja, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas, ia menambahkan:

"Kami melakukan ini demi kepentingan transatlantik bersama. Dengan saling menghormati dan pembagian beban yang adil."

Lalu ada satu kalimat yang cukup personal dari Merz. Katanya, "Kemitraan transatlantik ini sangat dekat di hati kami baik bagi kami secara keseluruhan maupun bagi saya pribadi, seperti yang Anda ketahui."

Entah ini sekadar basa-basi diplomatik atau memang sungguhan, tapi setidaknya nada bicaranya terdengar manusiawi. Agak berjeda, seperti orang yang benar-benar memikirkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar