Di markas Polda Riau, Rabu (22/4) lalu, suasana cukup tegang. Kapolda Irjen Pol Herry Heryawan, yang akrab dipanggil Herimen, memberikan arahan tegas kepada seluruh jajarannya. Intinya sederhana tapi berat: membangun citra positif Polri bukan cuma soal operasi lapangan. Semuanya bermuara pada kepercayaan publik, dan kuncinya ada di komunikasi yang manusiawi.
“Keberhasilan kita tidak hanya diukur dari tindakan di lapangan,” ujar Herry Heryawan.
“Tapi juga bagaimana kita menyampaikan informasi secara cepat, tepat, dan humanis kepada masyarakat.”
Pernyataannya itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, pendekatan yang terlalu keras dan represif, kalau tidak dibarengi dengan komunikasi yang baik, justru bakal berbalik arah. Alih-alih dipercaya, malah bisa kontraproduktif. Masyarakat jadi menjauh.
Nah, di sisi lain, tantangan zaman sekarang makin kompleks. Ruang digital menuntut respons cepat, itu sudah. Tapi Herimen juga mengingatkan soal literasi. Personel harus paham betul seluk-beluk UU ITE, misalnya. Jangan sampai salah langkah hanya karena kurang melek aturan.
Lalu ada isu yang lebih luas lagi: geopolitik global. Situasi dunia sedang tidak menentu, dengan ketegangan AS-Israel dan Iran yang berimbas ke mana-mana. Penutupan Selat Hormuz, misalnya, langsung bikin harga BBM meroket. Itu bisa memicu gejolak di dalam negeri. Makanya, sense of crisis harus ditingkatkan. Antisipasi segala kemungkinan.
Untuk program yang sudah jalan, seperti community policing, Kapolda minta evaluasi objektif. Jangan asal jalan. “Program dasarnya sudah baik,” katanya.
“Tapi implementasinya harus benar-benar dirasakan masyarakat hingga ke tingkat bawah.”
Artinya, jangan cuma di atas kertas atau jadi wacana di rapat-rapat. Masyarakat kecil harus merasakan manfaatnya.
Terakhir, soal internal. Herimen bersikap keras. Integritas organisasi wajib dijaga. Tidak ada kompromi untuk anggota yang terlibat narkoba atau pelanggaran hukum lainnya.
“Kalau ketahuan,” tegasnya, “saya minta ditindak tegas. Sesuai aturan.”
Pesan itu jelas. Di teng-tengah upaya membangun komunikasi yang humanis ke luar, kedisiplinan dan konsistensi di dalam tubuh sendiri tetap jadi pondasi utama. Dua hal itu, kalau dijalankan beriringan, barulah citra positif itu bisa dibangun dari hal yang konkret.
Artikel Terkait
Pengacara Nadiem Protes Paksa Hadir di Sidang Meski Klien Sakit
Jawa Tengah Diguncang 162 Bencana dalam Empat Bulan, Pemerintah Perkuat Logistik dan Mitigasi
FBI dan Bareskrim Bongkar Sindikat Phishing dari Kupang, Rugikan Rp 350 Miliar
Syekh Ahmad Al Misry Bantah Tuduhan Pencabulan, Serahkan Bukti ke Kuasa Hukum