Progres pembangunan LRT Jakarta Fase 1B, yang menghubungkan Velodrome dan Manggarai, terus menunjukkan angin segar. Hingga akhir 2025, PT Waskita Karya mencatat realisasi fisiknya sudah melesat hingga 82,99 persen. Nilai proyeknya sendiri tak main-main, mencapai Rp 4,1 triliun.
Pencapaian penting lainnya adalah tersambungnya sepenuhnya jalur layang LRT di atas Jalan Tol Ir Wiyoto Wiyono. Ini jadi momen krusial, lho. Bayangkan saja, pemasangan girder sepanjang 120 meter di atas tol yang selalu ramai itu bukan pekerjaan mudah. Lokasinya sendiri dikenal sebagai titik kritis dalam lintasan proyek.
Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, tak menyembunyikan rasa syukurnya.
"Kami bersyukur proses penyambungan bisa selesai dan berjalan lancar sesuai rencana. Keberhasilan ini menunjukkan sinergi yang kuat antara Perseroan dengan PT Jakarta Propertindo, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan," ucap Ermy dalam keterangannya, Selasa (13/1).
Menurutnya, sambungan ini punya arti lebih luas. Ia kini menghubungkan jalur layang LRT dari Kelapa Gading sampai ke Jalan Pramuka. Jadilah, wilayah Jakarta Utara, Timur, dan Pusat terintegrasi lewat satu sistem rel layang.
Di sisi lain, struktur utama di beberapa ruas jalan seperti Pemuda, Pramuka, Tambak, dan Sultan Agung juga sudah terhubung. Untuk pekerjaan rel atau trackwork, realisasinya sudah mencapai 4,7 kilometer.
"Untuk pekerjaan arsitektural dan MEP, kami masih fokus di beberapa stasiun seperti Pramuka BPKP, Pasar Pramuka, Matraman, dan Manggarai. Tapi optimisme untuk menyelesaikan semuanya tepat waktu tetap tinggi," lanjut Ermy.
Hebatnya, proyek ini bahkan membawa nama Waskita Karya melenggang ke kancah internasional. Mereka jadi finalis Bentley’s Going Digital Awards Year in Infrastructure 2025 di Amsterdam. Penilaiannya sih sederhana: inovasi digital yang diterapkan di proyek ini dinilai mampu mendongkrak efisiensi, keselamatan kerja, dan keberlanjutan proses konstruksi.
Ermy menjelaskan, membangun transportasi massal di kota sepadat Jakarta memang butuh pendekatan yang nggak biasa. Tantangan teknis di lapangan bisa datang dari mana saja.
"Kami pakai platform digital terintegrasi yang menggabungkan data spasial, model BIM, dan jadwal kerja dalam satu sistem. Tujuannya jelas, agar seluruh tim bisa akses informasi dengan mudah dan ambil keputusan lebih cepat," tuturnya.
Metode itu rupanya cukup jitu. Perusahaan mengklaim berhasil mengidentifikasi dan menyelesaikan lebih dari 1.200 potensi masalah bahkan sebelum konstruksi dimulai. Simulasi 4D yang diterapkan bukan cuma soal keselamatan, tapi juga mendorong efisiensi dan presisi kerja di lapangan.
Tak bisa dipungkiri, penyelesaian proyek ini sangat dinanti warga Jakarta. Harapannya besar: mengurangi kemacetan yang sudah akut dan sekaligus menekan jejak karbon demi kualitas udara yang lebih baik.
"Komitmen kami tetap. Waskita Karya akan terus mendukung hadirnya sistem transportasi publik yang andal, aman, nyaman, dan tentu saja berkelanjutan," pungkas Ermy.
Artikel Terkait
YULE Naikkan Dividen ke Rp10 per Saham, Didukung Kinerja Keuangan 2025 yang Kuat
Pertamina Gas Rambah Bisnis Gas Industri dan Hidrogen, Ajukan Persetujuan ke RUPS
Laba Bersih Astra Graphia Melonjak 32%, Dividen Rp325 Miliar Disetujui
Indeks Sektoral Anjlok, Saham INDS Terjun 67% pada Maret 2026