Di Wisma Danantara, Jumat lalu, Rohan Hafas dari Danantara Indonesia mengungkapkan sejumlah skema yang sedang digodok untuk membentuk holding maskapai. Ini melibatkan Garuda, Citilink, dan Pelita Air. Intinya, mereka sedang mencari bentuk penggabungan yang paling efisien. Kajian mendalam masih berlangsung untuk menentukan opsi terbaik.
Rohan, selaku Managing Director Stakeholders Management, menjelaskan bahwa keputusan akhir akan sangat bergantung pada angka. "Nanti lihat hasil akhirnya: efisiensinya di mana dan berapa nilainya. Mana yang lebih masuk akal, apakah menggabungkan jadi satu perusahaan atau cukup dengan aliansi kerja sama. Bisa juga kolaborasi saja," ujarnya.
Kalau rencana ini jalan, dampaknya bakal terasa sampai ke cara kita pesan tiket. Selama ini kita booking lewat masing-masing maskapai. Ke depannya, sangat mungkin akan ada satu platform terpadu untuk ketiganya.
"Secara hukum, PT-nya bisa tetap berdiri sendiri. Tapi sistem pemesanannya bisa jadi satu. Begitu juga dengan perawatan pesawat, ground handling, bahkan kru pesawatnya bisa disatukan," tambah Rohan.
Dia lalu menyoroti soal efisiensi kru. Menurutnya, jam kerja pilot dan pramugari di maskapai pelat merah saat ini belum optimal. Dengan penggabungan, kru bisa lebih fleksibel ditugaskan sesuai kebutuhan operasional, tanpa terpaku pada satu brand.
"Ambil contoh jam terbang. Karena jumlah pesawat yang antre servis, seorang pilot bisa dialokasikan ke Citilink, Garuda, atau Pelita. Coba bandingkan dengan maskapai swasta. Pramugari Lion atau Super Air Jet bisa berapa kali terbang sehari? Lalu bandingkan dengan yang di Garuda atau Citilink," lanjutnya.
Targetnya sih, semua ini bisa rampung di tahun 2026. Tepatnya diharapkan selesai pada semester pertama. Kenapa buru-buru? Ini penting banget untuk mendongkrak kinerja keuangan Garuda yang masih perlu banyak perbaikan.
"Ini krusial. Dengan cara ini, kita bisa dapat tambahan pendapatan tanpa harus menambah pesawat baru," katanya menegaskan.
Di sisi lain, ada tujuan strategis lain yang ingin dicapai. Selama ini, ketiga maskapai negara itu kerap saling sikut di rute-rute yang sama yang sudah pasti menguntungkan. Padahal, kalau digabung kekuatannya, mereka bisa membuka rute-rute baru dan meningkatkan konektivitas secara keseluruhan.
Rohan memberi gambaran sederhana. "Pesawatnya kan jadi lebih banyak kalau digabung. Di rute yang sama, misalnya Surabaya, masing-masing maskapai mungkin cuma terisi 60%. Tapi kalau digabung jadi satu penerbangan, bisa penuh dan optimal. Logikanya, untuk satu tujuan yang sama, ngapain dioperasikan tiga flight berbeda?" pungkasnya.
Artikel Terkait
UNTR Setujui Dividen Final Rp1.096 per Saham, Laba 2025 Turun
28 Saham Mid-Big Cap Catat PBV di Bawah 1, Sinyal Value Investing?
Direktur MSIN Buka Suara Soal Volatilitas Saham dan Rencana Secondary Listing
MNC Sekuritas Gelar Instagram Live Bahas Potensi dan Risiko Waran Terstruktur