Ketegangan geopolitik Timur Tengah sudah lama berpusat pada konflik antara Iran dan koalisi Israel-Amerika Serikat. Tapi medan pertempurannya kini tak lagi cuma di darat, laut, atau udara. Dunia maya telah menjadi arena baru yang sama sengitnya. Di sini, serangan siber, peretasan, dan gelombang disinformasi beroperasi layaknya rudal dan drone. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Meski secara geografis jauh dari pusat konflik, gelombang kejut dari perang digital ini ternyata tetap terasa, menguji ketahanan digital nasional kita.
Nah, tulisan ini akan melihat lebih dekat dampak dinamika perang siber itu bagi Indonesia, sekaligus langkah-langkah strategis apa yang bisa diambil untuk memperkuat pertahanan kita di tengah eskalasi global.
Perang siber antara Iran dan lawan-lawannya sebenarnya bukan hal baru. Semuanya berawal dari serangan Stuxnet di 2010, yang secara luas diduga kuat merupakan karya gabungan AS dan Israel untuk menggagalkan program nuklir Iran. Serangan canggih itu menjadi titik balik.
Sebagai balasan, Iran pun tak tinggal diam. Mereka mengembangkan kemampuan ofensif siber secara masif, melahirkan kelompok-kelompok seperti APT34 dan APT35. Kelompok-kelompok ini kemudian menyasar perusahaan AS, sekutu Teluk, dan infrastruktur kritis Israel. Serangan ransomware pada fasilitas air dan rumah sakit Israel di 2020-2021 adalah contohnya.
Memasuki 2023-2024, konflik terbuka antara Hamas yang didukung Iran dengan Israel memicu gelombang serangan baru. Kelompok pro-Iran membanjiri situs-situs Israel dengan serangan DDoS. Di sisi lain, AS dan Israel dikabarkan merespons dengan operasi siber untuk mengganggu sistem komando Iran. Pasca serangan rudal Iran ke Israel pada April 2024, intensitasnya makin menjadi-jadi. Sektor energi, keuangan, dan transportasi di kedua kubu jadi sasaran empuk. Karakter utamanya jelas: perang asimetris. Iran memanfaatkan serangan siber berbiaya relatif murah untuk menandingi superioritas konvensional musuhnya.
Lalu, dampaknya sampai ke Indonesia? Tentu saja. Meski bukan target utama, posisi Indonesia sebagai negara dengan lalu lintas digital terbesar di Asia Tenggara membuatnya rentan jadi korban tidak langsung. Setidaknya ada tiga jalur dampak yang perlu diwaspadai.
Pertama, serangan kolateral pada infrastruktur global. Banyak server dan layanan cloud yang dipakai perusahaan kita ternyata berlokasi di pusat data yang juga melayani target di Timur Tengah. Jadi, ketika serangan botnet atau DDoS besar-besaran terjadi di sana, layanan yang kita akses dari sini bisa ikut lumpuh. Contoh nyatanya, gangguan pada layanan perbankan digital beberapa waktu lalu yang disebabkan serangan di penyedia hosting Eropa.
Kedua, peningkatan serangan phishing dan malware yang menyamar. Kelompok-kelompok yang terafiliasi kerap menyebarkan malware lewat email yang mengatasnamakan organisasi kemanusiaan atau berita terkini soal konflik. Dengan literasi digital yang masih moderat, Indonesia jadi sasaran yang mudah. BSSN sendiri mencatat kenaikan signifikan serangan phishing bertema Timur Tengah di awal 2024.
Ketiga, disinformasi dan polarisasi di dalam negeri. Konflik Iran-Israel punya dimensi ideologis dan religius yang kuat. Narasi pro-Palestina atau sebaliknya sering dimanfaatkan untuk memobilisasi massa. Yang mengkhawatirkan, akun-akun bot dan troll farm dari luar negeri telah terdeteksi menyebarkan konten provokatif di media sosial kita. Hal ini jelas mengancam kohesi sosial dan ketahanan nasional di ranah informasi.
Lantas, bagaimana posisi ketahanan digital Indonesia menghadapi semua ini? Secara konsep, ketahanan digital adalah kemampuan bangsa untuk menjamin ketersediaan dan keamanan data serta infrastrukturnya. Tapi dalam praktiknya, tantangannya cukup berat.
Pertama, ketergantungan pada teknologi asing masih sangat tinggi. Mulai dari perbankan, energi, hingga transportasi, banyak mengandalkan perangkat dari AS, Israel, atau sekutunya. Celah keamanan (zero-day) yang dieksploitasi peretas Iran terhadap produk Microsoft atau Cisco, misalnya, secara otomatis jadi celah bagi sistem kita juga.
Kedua, koordinasi antarlembaga masih terasa fragmentasi. Meski BSSN sudah berdiri, kolaborasinya dengan Kemenkominfo, Bank Indonesia, dan sektor privat belum benar-benar optimal. Berbagi informasi soal indikator serangan dari konflik Timur Tengah seringkali telat sampai.
Ketiga, kesadaran keamanan siber di tingkat pengguna dan UKM masih minim. Mayoritas serangan justru menyasar sektor swasta dan individu. Tanpa budaya cyber hygiene yang baik, Indonesia akan terus jadi pintu masuk termudah bagi peretas global.
Jadi, apa yang harus dilakukan? Sikap isolasionis jelas bukan jawaban. Indonesia perlu langkah proaktif dan adaptif.
Pertama, penguatan diplomasi siber di forum multilateral seperti ASEAN dan PBB. Indonesia bisa mendorong pembuatan norma perilaku di dunia maya, termasuk larangan menyerang infrastruktur sipil.
Kedua, menyusun Strategi Ketahanan Siber Nasional yang spesifik menangani dampak konflik yang meluas. Strategi ini perlu mencakup sistem peringatan dini yang terhubung dengan intelijen ancaman global, simulasi skenario serangan, dan cadangan infrastruktur di dalam negeri.
Ketiga, meningkatkan literasi digital berbasis ancaman aktual. Kampanye tentang modus phishing dan disinformasi bertema konflik global harus digencarkan, bukan hanya isu nasional.
Keempat, memberikan insentif bagi perusahaan untuk mengadopsi arsitektur zero-trust. Pendekatan "jangan percaya siapa pun" ini menjadi keharusan bagi sektor-sektor kritis seperti perbankan dan energi, mengingat ancaman bisa datang dari mana saja, termasuk rantai pasok global.
Pada akhirnya, perang Iran versus Israel-AS telah membuka babak baru peperangan asimetris di dunia maya. Indonesia, meski bukan pihak yang bertikai, merasakan dampaknya: serangan kolateral, malware yang makin ganas, dan disinformasi yang memecah belah. Ketahanan digital kita masih rentan, digugat oleh ketergantungan teknologi asing, koordinasi yang lemah, dan kesadaran publik yang rendah.
Kita butuh strategi nasional yang proaktif, bukan cuma reaktif. Mulai dari diplomasi siber, peningkatan infrastruktur, hingga penguatan budaya keamanan digital. Tanpa langkah nyata, Indonesia berisiko terus menjadi medan perang tidak langsung yang mudah dieksploitasi setiap kali konflik digital global memanas.
Hendra Manurung.
Dosen Tetap Prodi Magister Diplomasi Pertahanan Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan RI (UNHAN RI).
Artikel Terkait
PDIP Bentuk Tim Khusus Evaluasi UU Pemilu dan Siapkan Strategi Hadapi Pemilu 2029
Iran Beri Rusia dan China Perlakuan Khusus di Selat Hormuz
Waisak 2026 Jatuh pada 31 Mei, Pemerintah Angkat Tema Perdamaian Lewat Dharma
Drone Ukraina Serang Kapal Tanker dan Depot Minyak di Rusia Selatan, Dua Orang Terluka